Jika disuruh memilih satu buku untuk melatih critical thinking untuk orang awam, saya rasa tidak ada yang lebih baik dari buku yang ditulis Ken Watanabe. Buku ini sebenarnya ditulis untuk anak SD di Jepang, untuk melatih mereka dalam menggunakan Critical Thinking. Tapi kennyataannya, buku ini banyak diminati oleh orang dewasa, tercatat buku ini terjual 370 ribu selama 6 bulan.

Dan menurut saya, dalam era 4.0 ini, critical thinking adalah salah satu skill yang paling mahal karena kemampuan ini tidak hanya bisa membuka opportunity yang baru tapi juga menghindarkan dari “keputusan yang salah”. Contoh critical thinking paling umum dan jarang disadari adalah kemampuan membaca pattern dari sebuah pasar, kenapa penjualan barang X laku di bulan-bulan tertentu atau bisa mempredikasi tren penjualan dalam 2-3 bulan ke depan dengan melihat historical data atau benchmark di tempat lain

Dan menurut pendapat (unpopular) saya, seseorang yang suka bermain politik kantor adalah orang yang memiliki tendensi tidak memiliki kemampuan critical thinking dalam melihat suatu masalah sehingga dia memilih “kabur” menyelesaikan masalah dengan human approach atau ABS (asal bapak senang), terus masalahnya gimana? disembunyiin aja, gak kemana-kemana dan berharap yang bersangkutan lupa

Baik, kembali ke buku ini, bagaimana caranya untuk melatih critical thingking? Mindset nya dibenerin dulu, ada 3 fondasi pokok dalam cara berfikir

  1. Jangan “jump to conclusion” dan mencoba menyelesaikan masalah saat itu juga, break down masalah itu terlebih dahulu
  2. Kumpulkan semua data untuk menganalisa semua penyebab dan potensi solusinya
  3. Merumuskan hipotesa dan mengujinya untuk menemukan solusi mana yang berhasil.

If you often find yourself jumping head first into solutions that don’t really fix your problems, this one’s for you! Welcome to Problem Solving 101!

Langkah pertama untuk menyelesaikannya adalah dengan mem-break down masalah itu

Katakanlah kamu punya bisnis makanan online, dan kamu merasa penjualan-nya sepi, terus apa yang harus dilakukan? Mayoritas orang akan memilih untuk mempromosikan secara besar-besaran, tapi tunggu dulu, apakah “traffic” masalahnya? Belum tentu

Step back dikit, cari tahu dulu akar masalahnya, Watanabe merokemendasikan menggunakan decision trees. Jadi di list dulu, bisa jadi karena (1) memang traffic (2) orang yang pernah beli gak beli lagi (3) atau ternyata yang nanya-nanya sudah banyak tetapi yang convert untuk jadi beli sedikit. Dari semua list potensi masalh itu, kamu bisa meng-eleminasi masalah apa yang tidak relevan agar tidak terlalu too much information

Pastikan kamu menganalisa semua akar masalah

Setelah menginventaris masalah yang ada, lakukan validasi atau verifikasi. Di buku ini memang tidak dijelaskan secara mendetail bagaimana memvalidasi masalah yang ada, tetapi menurut pengalaman saya, lakukan riset pasar dengan cara wawancara beberapa orang untuk mengetahui keinginan user sesungguhnya, karena tidak jarang kita terjebak dalam asumsi kita yang sering kali salah, Ini cukup dimaklumi, karena sebagai yang memiliki bisnis pasti ada idealisme disitu yang bisa membuat bias

Setelah menemukan solusi, rumuskan beberapa hipotesa, lalu uji satu per satu

Setelah mengetahui masalah yang ada, lakukan brainstorming : potensi solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Tapi ingat, tidak ada jaminan keberhasilan 100% setelah kita telah berhasil mengidentifikasi masalah dengan benar dan membuat solusinya, maka solusi itu perlu diuji

Sebagai contoh masalah penjualan makanan di atas, sebenarnya banyak orang yang tanya makanan yang kamu jual, dan sedikit yang jadi beli. Setelah kamu tanya-tanya user, mereka bilang harganya kemahalan, maka kamu bisa melakukan benchmark harga dengan makanan-makanan sejenis apakah harga kamu lebih mahal, jika tidak lebih mahal maka tidak ada alasan untuk menurunkan harga.

Itu sebabnya kita harus menganggap pilihan/solusi kita sebagai hipotesa, yang bisa di-challenge siapa saja. Dan tentu saja, saat di challenge, jangan take personally dan lakukan iterasi lagi hingga menemukan solusi yang tepat

Kapan pun kita menghadapi masalah yang rumit, maka kumpulkan banyak data, renungkan dan validasi informasi yang terkumpul, dan tentukan solusinya. Dengan pendekatan seperti ini, (at least menurut pengalaman saya) semua masalah rumit pasti ada jalan keluarnya, tinggal sabar mengumpulkan data, merumuskan solusi bersama dan lakukan validasi

Sedikit bonus : saat ditanyain bos kita, kita sering sekali ada tendensi untuk menjadi problem solver saat itu juga agar tidak terlihat bodoh atau lemah. Padahal bisa saja solusi yang kita berikan secara mendadak bisa mengarahkan kita ke keputusan yang salah, sehingga lebih baik saat ada masalah rumit yang belum ada jawabannya, tunda dan minta waktu untuk memberikan jawaban. Kalau saya biasanya bilang Noted, will assess karena gak semuanya ada jawabannya

Selamat Memecahkan Masalah