Tentu saja sebelum membahas lebih jauh tentang Fasisme, kita harus tahu dulu definisi Fasisme. Menurut KBBI, Fasisme adalah sebuah faham politik kekuasaan absolut tanpa demokrasi, faham yang mengedepankan bangsa sendiri dan memandang rendah bangsa lain. Dengan kata lain, sebuah paham yang melegitimasi praktek diktator. Pertanyaan selanjutnya, memang masih ada ya praktek-praktek seperti ini? Tentu saja masih ada ferguso, contoh paling nyata adalah Korea Utara. Dan khususnya di buku ini menjelaskan bahwa ada potensi faham fasisme tumbuh di negara-negara paling demokratis semacam US atau negara-negara di eropa lainnya

Secara khusus, di buku ini menjelaskan bahwa Fasisme adalah ideologi sayap kanan yang biasanya tumbuh pesat karena kemarahan atau kegelisahan orang-orang di grass root yang menerima ketidakadilan. Dan kondisi ini bisa semakin runyam kalau ada orang karismatik nan manipulator macam Benito Mussolini. Benito Mussolini ini punya kemampuan membuat narasi hingga menghinpun masssa yang senasib dan sepenanggungan.

6 Fakta tentang Benito Mussolini, Sang Diktator Fasis Italia

Pada awalnya, partai politik ekstrem sayap kanan seperti ini berkuasa dengan cara demokratis. Mereka bisa menang karena mereka mampun menyakinkan orang-orang yang merasa mendapatkan perlakuan tidak adil bahwa mereka adalah solusinya. Dan begitu mereka terpilih, mereka memprivatisasi informasi dan mengubah pendidikan dengan bias politik yang menguntungkan propaganda mereka. Mereka juga mengendalikan media dan informasi untuk tujuan propaganda mereka. Dengan kata lain, tujuannya adalah untuk menciptakan utopia yang terindoktrinasi. Dan pada akhirnya, sedikit demi sedikit, mereka ingin menghapus demokrasi.

Di buku ini, penulis mengajak kita melihat masa lalu bagaimana Fasisme berkuasa dan bagaimana mengantisipasinya agar tidak terulang di masa depan

Dalam Demokrasi yang Rapuh, Fasisme Dapat Dengan Mudah Menemukan Jalannya ke Pucuk Kepemimpinan.

Sejarah adalah guru terbaik kita. Untuk alasan ini, kita harus selalu melihat ke belakang dan menganalisanya. Jadi mari kita lihat bagaimana fasisme naik ke tampuk kekuasaan untuk memulai. Mussolini pernah menyatakan bahwa merebut kekuasaan itu seperti mencabuti ayam hidup – lakukanlah dengan sesenyap mungkin, tanpa ada yang memperhatikan.

Pada awalnya, mereka mematuhi aturan demokrasi pada awalnya. Contoh sempurna dari ini adalah Hitler. Setelah terpilih, mereka akan menyingkirkan lawan-lawannya. Dan penulis pun berpendapat, saat ini, kita dapat melihat hal yang sama terjadi di Turki, dengan pemimpinnya Erdogan

Fasisme, seperti doktrin-doktrin lainnya, mereka datang dengan narasi bahwa mereka adalah solusi dari keresahan society yang tidak jauh dari rasa frustasi sehingga tidak percaya pada sistem demokrasi saat ini. Menurut Indeks Demokrasi The Economist, kita mengalami penurunan kesehatan demokrasi di 70 negara! karena semakin banyaknya praktek-prakrek korupsi dan pengangguran yang tinggi.

Sejarah Mencatat, Fasisme Hanyalah Perulangan Sejarah

Tokoh-tokoh seperti Hitler, Mussolini, atau Stalin telah menggambarkan bagaimana fasisme, nazisme, dan doktrin-doktrin kejam lainnya. Namun, bukan berarti masalah lalu tak pernah terulang kembali

Setelah Perang Dunia I, gerakan ekstrem seperti fasisme adalah hal yang biasa terjadi. Mengapa? Karena negara saat itu lemah (sedang sibuk perak). Dampaknya, banyak orang miskin, menganggur, dan tertekan. Ini bahkan terjadi di Inggris, negara yang menjunjung tinggi kebebasan dan demokrasi.

Kita juga dapat melihat fenomena ini di India, di mana para nasionalis Hindu yang marah mengkhawatirkan umat Islam yang semakin berkembang. Negara-negara Eropa seperti Rumania, Spanyol, atau Cekoslowakia juga mengalami kecenderungan fasis. Selain itu, mereka semua terjadi di bawah pola yang sama.

Di Italia, Mussolini membahas penolakan kapitalis dengan mencoba mengeksploitasi warga. Untuk membuktikan kesetiaannya kepada rakyat, ia memecat lebih dari 35.000 politisi. Di Inggris, serikat fasis menjanjikan perlindungan ekonomi dengan bertindak melawan imigran.

Oleh karena itu, kita dapat melihat bagaimana kaum fasis naik ke tampuk kekuasaan dengan terus berjanji untuk melawan “musuh negara”. Mereka berjanji untuk menyelesaikan pengangguran dengan menghilangkan imigran yang telah mencuri pekerjaan mereka. Atau pemberantasan korupsi dengan pemusnahan massal pejabat pemerintah.

Oleh karena itu, setiap kali orang terlalu frustrasi tentang masalah ini, ideologi ekstrem lebih mungkin muncul. Hari ini, kita dapat mengamati kecenderungan seperti itu di negara-negara seperti Hongaria, Venezuela, dan bahkan Amerika Serikat (Pada saat Thrump menjabat).

Pendukung Demokrasi Harus Menyadari Kerapuhannya dan Berupaya Melestarikannya


Sekarang kita tahu seperti apa fasisme dan bagaimana fasisme dapat menyusup ke lapisan demokrasi yang paling halus sekalipun. Jadi kita seharusnya bisa mengantisipasi dan mencari cara untuk mencegah agar hal itu tidak terjadi. Banyak masalah politik dan ekonomi di berbagai negara, namun hal ini bukanlah sebuah alasan untuk menghapuskan demokrasi, berdebat bahwa kapitalisme memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin tidak memberikan solusi apa-apa

Dunia yang sedikit demi sedikit diambil alih oleh teknologi meningkatkan pengangguran. Di Eropa, satu dari empat anak muda menganggur. Imigran menetap di negara-negara berpenghasilan tinggi dan meninggalkan profesi tradisional. Hal ini membuat argumen anti-demokrasi semakin nampak meyakinkan.

Terlebih lagi, dunia sedang menghadapi masalah baru: disinformasi. Dengan akses universal ke media sosial, gaslighting tidak pernah semudah ini. Sekarang lebih mudah menyebarkan berita palsu dan menghasut sehingga menyebabkan pemberontakan. Semua karena tidak ada yang bisa membedakan sumber mana yang benar dan mana yang hoax

Dengan mengingat semua ini, para pendukung demokrasi harus berjuang terus-menerus untuk menjaga pemerintah dan sistem mereka tetap sehat. Namun, meski rapuh, ideologi ini masih menjadi tiang masyarakat modern kita. Dan demokrasi telah terbukti dapat mendorong inovasi dan pengembangan.

Penutup

Di buku ini, Madeleine Albright memberikan pandangan kepada pembacanya tentang ideologi ekstrem dan bagaimana mereka bisa naik ke tampuk kekuasaan. Fasisme lebih dari sekadar hanya sebuah sejarah, karena sejarah bisa terulang kembali. Buku ini wajib dibaca oleh semua orang yang ingin belajar bagaimana melindungi demokrasi dan mengenal musuh-musuhnya.