Pada artikel Tech In Asia Saladstop! Raih Pendanaan Rp126 Miliar dari Temasek, East Ventures ada sebuah pernyataan menarik yaitu bahwa Saladstop! adalah Startup penyedia makanan sehat. Saya sedikir tertawa geli, karena sebelumnya kopi kenangan di labeli startup, sekarang Saladstop. Dan pada akhirnya, definisi StartUp secara umum sudah mulai bergeser, yang dimana, sebelumnya Statrtup cuma dikaitkan dengan perusahaan rintisan yang bergerak di bidang teknologi.

Hal ini mengingatkan saya pada case Clayton M. Christensen yang pertama kali mengeluarkan istilah distruptive innovation/technologu. Dia mengatakan bahwa orang-orang salah kaprah dalam mendefinisikan distruptive innovation, termasuk pak Rhenald Khasali yang seringkali menggunakan narasi disruption di dalam seminar-seminarnya. Jadi Clayton berpendapat startup-startup yang populer saat ini bukanlah disrupter, misal Uber, Gojek, Tokopedia karena karena perusahaan yang menerapkan konsep disruptive innovation adalah perusahaan yang harus memiliki kriteria low-end or new-market footholds. 

Low-end footholds ada karena incumbents terlalu fokus terhadap segmen pasar yang dirasa lebih profitable sehingga incumbents ini kurang menghiraukan bahkan meng-ignore konsumen yang dirasa kurang memberikan keuntungan, sehingga hal ini menyebabkan sebuah disrupter masuk dan menawarkan produk ke low-end customer. Sedangkan, new-market footholds adalah suatu kondisi dimana disrupters membuat market baru yang memang sebelumnya tidak ada.

Kembali ke Uber, Gojek, Tokopedia, mengapa mereka tidak disebut distrupter? Karena pasar mereka sama dengan bisnis konvensional. Bahkan secara financial dan strategy, mereka tidak menunjukkan seperti kriteria yang diatas. Sebagai contoh Uber atau GoCar, mereka bukanlah distrupter bluebird. Mereka adalah kompetitor (murni) bluebird yang berhasil menyediakan layanan lebih bagus dan harga yang lebih murah tetapi tidak mencerminkan sebagai distrupter-nya Bluebird.

Only the Good Die Young: 5 Lessons from Clay Christensen

Disini, Clayton bahkan bilang bahwa orang-orang dalam mengartikan istilah tersebut, mereka tidak serius membaca buku the innovator dillema dan artikel-artikel pendukungnya.

Dengan adanya tulisan ini, saya merevisi tulisan saya sebelumnya TERNYATA PEMIKIRAN KITA TENTANG DISRUPTIVE INNOVATION SELAMA INI, ITU SALAH . Pada akhirnya, Clayton gagal “mengunci” definisi disruptive innovation, semua bebas memiliki definisinya sendiri-sendiri, seperti istilah-istilah populer lainnya macam Internet Of Things, Industry 4.0, Silicon Valley, dan kawan-kawannya. Tidak ada yang bisa memonopoli atau membuat pakem terhadap definisi itu.

Besok-besok kalau kalian jualan pecel dan growing nya cepet, bisa juga kok disebut startup dengan label Startup penyedia makanan kearifan lokal 🙂 – setengah serius, setengah bercanda hehehe