Unicorn Indonesia kembali lahir, setelah startup fintech Ajaib mengantongi pendanaan Seri B senilai USD 153 juta atau setara Rp 2,18 triliun (kurs USD 1 = Rp 14.248). Ajaib pun menjadi startup unicorn ke-7 Indonesia. Konon, Ajaib adalah startup tercepat yang mencapai status unicorn di ASEAN (2.5 tahun). Pada kesempatan ini, saya tidak akan membahas tentang perjalanan AJAIB, karena telah dibahas di banyak portal berita. Saya lebih tertarik membahas, AJAIB tidak memiliki “BANK” tetapi kok bisa menang dari para raksasa yang sudah memiliki aplikasi trading, jauh sebelum AJAIB lahir

Fenomenana AJAIB membuktikan pada kita bahwa dengan adanya raksasa yang menjadi “pendukung”, tidak menjamin akan berhasil, sebut saja BIONS (BNI), MOST (mandiri), SIMInvest (Sinarmas). Alih-alih menjadi pemenang, malah tenggelam. Di dunia ecommerce kita cukup familiar bagaimana blanja dan plaza.com didukung oleh telkom, dan akhirnya gagal juga. Yang menjadi pemenang dari perusahaan lokal malah tokopedia dan bukalapak yang notabene (dulu) bukan siapa-siapa.

Seharusnya dengan adanya dukungan raksasa, minimal infrastructure sistem tersebut sudah ada, tapi mengapa masih kalah saja? Berikut hasil pengalaman dan observasi saya

Fokus yang Salah

Saya bukanlah big fans metode SWOT dalam memformulasikan strategi, alasannya karena SWOT cenderung terfokus pada Strength (kelebihan atau apa yang dipunya oleh perusahaan tersebut) alih-alih opportunity. Pada kenyatannya, di era digital ini, customer tak seperti dulu yang pilihan mereka terbatas, sehingga perusahaan besar lebih leluasa me-monopoli pasar. Sekarang berbeda, customer memiliki kebebasan lebih cair. Jika dia tidak suka, mereka tinggal keluar dan uninstall.

Focus on consumer atau market adalah kuncinya, seberapapun canggih-nya sebuah teknologi yang dimiliki oleh sebuah perusahaan, jika customer tidak membutuhkan, maka customer tidak akan pernah menggunakan anyway

Kita sering mendengar dongeng bagaimana ipod melakukan technology push daripada market pull, tapi mereka lupa bahwa butuh bertahun-tahun apple team melakukan riset untuk menentukan fitur atau fungsi apa yang paling dibutuhkan oleh customer, dan fitur apa yang “gak penting-penting amat” untuk dibuang

Salah satu “penyakit” dari korporasi adalah keengganan mereka meng-eliminasi fitur yang terbukti tidak works. Alih-alih membantu dalam product development, keputusan tetap meng-keep fitur yang tidak berguna karena alasan nostalgia malah membuat beban dan mengurangi kecepatan dalam proses berinovasi, contoh simpel : harus ada tim yang tetap memonitoring fitur tersebut padahal bisa dialihkan ke pengembangan produk lain yang lebih beneficial

Jeff Bezos pernah bilang : Untuk menemukan 1 fitur yang bagus, dibutuhkan tidak kurang dari 10 eksperimen. Sehingga kalaupun harus men-sutdown puluhan fitur dalam sebulan karena kemaslahatan bersama, maka seharusnya meng-kill fitur hal yang biasa

Mindset Keberhasilan (Success Metrics)

Di beberapa perusahaan yang saya temuin, saya cukup kaget saat mereka merayakan telah membuat ratusan fitur dalam setahun, dengan ribuan story point. Buat saya, itu bukanlah achievement yang patut dirayakan karena kalaupun ratusan fitur telah dibuat, tetapi jika sedikit yang menggunakan, apa gunanya?

Mindset ini yang perlu diperbaiki, success metrics seharusnya berfokus pada berapa user telah yang menggunakan, berapa user yang kembali lagi menggunakan hingga berapa transaksi yang telah terjadi karena fitur itu.

Reliability

Ini yang sering dilupakan pemilik aplikasi. Aplikasinya keren, fiturnya banyak dan canggih tapi kalau sering down aka gak bisa diakses, apa gunanya?

Yang menjadi konsekuensinya bukan hanya user tidak bisa akses, akan tetapi (1) opportunity loss, berapa transaksi yang hilang karena sistem itu tidak bisa di akses, anggap saja ada 1000 transaksi per menit, dan aplikasi down selama 10 menit, maka sudah kehilangan 10 ribu transaksi. Anggap saja 1 transaksi bernilai 100 ribu, maka dalam 10 menit sudah kehilangan 1 milyar. (2) Reputasi, apalagi untuk aplikasi yang berhubungan dengan penyimpanan uang, down 10 menit bisa membuat customer panik, dan tidak menutup kemungkinan customer memindahkan uangnya setelahnya, sehingga SLA reliability 99.9% hukumnya adalah fardhu ain

Selain reliability adalah page load time, percuma kalau aplikasi nya kerena tapi lemot karena harus load banyak komponen. 2 hal ini sering dilupakan oleh pemilik aplikasi

User Experience

Yang penting ditaruh dibelakang. Apa yang membedakan tokopedia atau shopee dibandingkan dengan ecommerce lainnya? kita mungkin bisa berdebat karena jumlah promo, pada kenyataannya ecommerce lain juga punya promo. Dan pada akhirnya user experience adalah pembeda. Jika untuk melakukan 1 transaksi, di aplikasi X butuh 6 langkah dan di aplikasi Y hanya butuh 3 langkah, tentu saja customer cenderung memilih yang lebih simpel.

Saya pernah dalam sebuah meeting di sebuah perusahaan yang ingin meng-onlinekan proses offline, tentu saja banyak ide berhamburan. Dan saya come up dengan 1 pertanyaan simpel, bagaimana mungkin orang dengan sukarela mau pindah ke online, kalau 1  proses transaksi di offline hanya membutuhkan 30 detik dan 2 langkah, sedangkan experience online membutuhkan 2-5 menit dan 6-7 langkah. Hal fundamental seperti ini yang sering dilupakan hanya karena ingin mengejar kata sudah IoT atau revolusi industri 4.0.

Dan dari semua ini, saran untuk korporasi yang ingin berinovasi, kurangi jargon macam agile, IoT, revolusi Industri 4.0, dan jargon-jargon keren lainnya. Cukup fokus ke consumer, Solve their problem, make your customer happy and delightful, aplikasi yang kamu buat akan sukses dengan sendirinya