Clubhouse yang bernasib sama dengan kopi dalgona

3 Resep Minuman Dalgona yang Lagi Viral, Kali Ini Tanpa Kopi Halaman all -  Kompas.com

Di awal tahun 2021, tiba-tiba ada sebuah platform yang sangat viral dibicarakan hingga kalau bisa rada lebay, IG story penuh dengan printscreen-an ClubHouse dan banyak orang yang juga membicarakannya di Twitter. Salah satu yang menarik dari aplikasi ini adalah ekskulisivitasnya yang dimana untuk masuk kamu harus punya Iphone dan undangan dari orang lain agar bisa bergabung.

Clubhouse sendiri mengklaim bahwa rata-rata lebih dari 500.000 room dibuat per hari. Setahun setelah mereka booming, kabarnya mereka telah mendapatkan ratusan juta dolar investasi termasuk  private American venture capital firm macam Andreesen Hollowitz. Dan sekitar pertengahan Februari 2021, mereka telah mencapai salah satu achievement terbesar mereka. Mereka telah mencapai 10 juta pengguna di platform mereka, dan yang mengesankan lagi mereka mencapainya hanya dalam satu tahun, dan cuma bisa digunakan oleh pengguna iPhone saja.

Apa yang saya pelajari dari fenomena ini :

  1. Pengguna Iphone mungkin tidak lebih banyak dari Android, tapi iPhone adalah platform terbaik untuk meluncurkan aplikasi kamu yang memiliki ide benar-benar unik dan membuat hype
  2. Orang-orang menyukai eksklusivitas
  3. What comes easy, goes easy (Upss)

Kabarnya (karena saya belum coba), Clubhouse sudah tersedia di platform Android. Akan tetapi tidak seperti market di Iphone, rilis di Android kurang terasa hype-nya, cukup berbeda dengan aplikasi Path kala itu (masih ada yang inget?). Sempat hype bebereapa tahun dan akhirnya mati juga. Dan seperti Path, selama beberapa bulan terakhir, hype Clubhouse tidak terdengar lagi

Apa yang terjadi dengan ClubHouse ?

Pada bulan Juli 2021, Clubhouse menonaktifkan sistem undangannya yang dulu sempat hype dan membuka untuk semua orang. Dan September, kemarin saya cek, Clubhouse adalah aplikasi jejaring sosial paling populer ke-35 di App Store. Ini sedikit lebih populer daripada aplikasi kencan Grindr dan OkCupid, dan sedikit kurang populer daripada Wink dan Tagged

Sekarang pertanyaannya, kenapa orang meninggalkan Clubhouse?

1. It wasn’t built upon a solid foundation and genuine community

Clubhouse terasa seperti a Jimmy Kimmel’s show, tempat di mana orang-orang keren berkumpul dan berbicara tentang keluarga, pencapaian, ambisi, dan rencana masa depan mereka macam Elon Musk, Naval Ravicant, Mark Zuckerberg, dan Jack Dorsey. Pada saat orang-orang keren itu tidak lagi menggunakan Clubhouse, ada tendensi audiencenya juga tidak ada alasan khusus untuk menggunakan Clubhouse.

Mungkin kita bisa berdebat, kan ada orang-orang keren lain. Entah kenapa saya malah melihat terkesan Clubhouse jadi ajang pamer prestasi atau jabatan, macem CEO, Founder, dll (subjektif ya), yang dimana saya sebenarnya tidak peduli (peace)

2. People started going back to their normal life

Yah tidak bisa dipungkiri, jumlah pengguna aktif harian di Clubhouse turun drastis setelah orang-orang mulai keluar dan kembali ke kehidupan normal mereka. Kita dapat memperhitungkan bahwa bagian penting dari kesuksesan Clubhouse pada awalnya adalah karena kita semua tinggal di rumah.
Lihat saja apa yang terjadi pada short-lived Twitter stories. Sangat bagus untuk bereksperimen, namun, Twitter menyadari itu bukan fitur yang memberikan value untuk user-usernya, sehingga mereka memutuskan untuk menghentikan fitur tersebut.

Pada saat itu, kita semua yang terjebak di rumah secara aktif mencari sesuatu yang baru menarik untuk dilakukan, dan pada kasus ini Clubhouse adalah pemenangnya

Tetapi sayangnya, orang-orang ternyata cepat move on

3. People don’t find that useful or relevant

Setelah pandemi ini mulai selesai, dan orang-orang sudah mulai berani keluar dan bertemu dengan orang di luar rumah. Pada saat itu, euforia ClubHouse mulai menghilang sedikit demi sedikit. Pada kenyataannya orang-orang lebih suka berkumpul dan berdiskusi secara offline walaupun harus mengahabiskan waktu 1 jam perjalanan pulang pergi daripada “berkumpul” secara online. Yang dimana Clubhouse sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan pasca pandemi ini

4. Issue in time commitment, notifications and quality

Masalah lain adalah konten. Saya harus meluangkan banyak waktu untuk mendengarkannya dan seringkali kualitas percakapan tidak sebanding dengan investasi waktu. Kualitas suara juga menjadi masalah lain, tidak jarak saya kesulitan mendengarkan apa yang dibicarakan orang tersebut karena kualitas wifi atau microfon yang buruk.
Namun hal yang membuat saya keluar dari Clubhouse dengan cepat adalah notification yang tidak ada habisnya! Terasa dapat spam sehingga saya mematikannya.

Secara umum, saya melihat Clubhouse sebagai sebuah success story. Clubhouse telah berhasil menemukan masalah yang ditimbulkan oleh situasi pandemi, yang dimana banyak orang yang kesepian dan butuh adaptasi dengan kondisi ini.

Clubhouse menemukan dan membuktikan satu hal yang sangat menarik, yaitu orang suka didengarkan.