Saya akan mulai dengan Narasi : Everyone can develop application, but not to sell it . Kenapa? bukan menganggap sebelah mata seorang software engineer atau programmer, pada kenyataannya saya yang alumni kuli ngoding, mengalaminya. Saya dulu punya aplikasi namanya NusantaraView, masuk nominasi INAICTA, Indigo Awards hingga APICTA, yang dimana keren di zamannya. Dimana aplikasi itu sekarang? Tutup bos sejak 2012. Kenapa? karena entah kenapa pada waktu itu “gagal dipasaran”. Dan pada akhirnya saya tau kenapa itu gagal, malah kalau sukses, saya yang bingung sendiri

Saya menambahkan data di atas, menurut data dari https://www.failory.com/blog/startup-failure-rate jumlah startup yang at least masih hidup dalam 10 tahun itu di bawah 10%. Kok angkanya kecil? ya emang kecil, sebagai bukti lain, berapa startup yang masih terdengar dari program pemerintah 1000 startup?

Untuk menjawab bagaimana StartUp bisa sukses, saya akan mereview buku INSPIRED yang ditulis Marty Cagan. Dan, bisa dibilang buku ini adalah kitab nya product manager. Siapa itu Marty Cagan? biarkan linkedin nya yang berbicara

Dalam bukunya, Marty Cagan berpendapat bahwa agar Startup itu sukses ada 5 parameter yang harus dipenuhi

  1. Great Culture
  2. Great People
  3. Great Product Managers
  4. Great Outcomes
  5. Great Process

Saya akan bahas satu persatu, dan maaf kalau saya bahasanya campur-campur bahasa Inggris dan bahasa indonesia, keterbatasa ilmu saya, ga bisa nemuin bahasa yang cocok kalau di bahasa Indonesia in

Great Culture

It doesn’t matter how great the ideas are if you can’t get a productized, shippable version delivered to your customers.

Untuk mempermudah Great Culture itu seperti apa saya bagi menjadi 2 hal, Good dan Bad Culture

Good Culture Bad Culture
1. Obsess over their customers.
2. Have a product mindset.
3. Passionate about the solving the problem.
4. Have an attitude that they are “going to war”.
5. Have an inspiring product vision they are working towards.
6. Are data driven. Instrument their work. 7. Analyze the data.
8. Rapidly prototype.
9. Measure success by results.
1. Obsess over their competition.
2. Consider reporting and analytics a nice to have.
3. Have lifeless “agile” ceremonies and measure success in “points” and completing the roadmap.
4. Design by committee.
5. Bonus : “Asal Bapak Senang” Mindset

Ada beberapa culture yang perlu garis bawahi disini, pertama adalah Obsess over their customers. Ini sangat penting terutama untuk produk atau bisnis yang bersifat B2C, objectivenya hanya satu yaitu how to make our users happy, udah. Yang menjadi masalah di perusahaan tradisional adalah how to make boss happy alias Asal Bapak Senang, ini yang menjadi masalah besar, padahal user utama mereka adalah ya customer bukan bos-nya. Saya percaya jika kita membuat bos kita happy, belum tentu customer happy, tetapi kalau customer happy, maka bos juga happy karena dengan customer happy, revenue datang dengan sendirinya. Selain itu, beberapa perusahaan tidak jarang membuat solusi bukan berdasarkan customer inginkan tetapi apa yang mereka punya, masalahnya kalau yang dia punya tidak sesuai dengan customer inginkan, ya gak akan laku anyway

Sell what they need, not what you have

Kedua adalah budaya, problem solving. Di dalam market yang sangat-sangat dinamis, masalah akan datang silih berganti. Jika mental atau mindset nya adalah siapa yang bertanggung jawab atau bersalah, ya masalah itu gak akan selelsai juga, dan lagi customer gak peduli yang salah siapa, yang mereka mau adalah masalahnya selesai

Ketiga adalah data driven. Tentu saja dalam suatu diskusi ada perbedaan pendapat, dan disinilah data driven dibutuhkan. Bukan siapa tapi mana datanya sebagai pemangku keputusan tertinggi. Bahkan ada jokes di perusahaan saya sekarang, kita hanya percaya 2 : Tuhan dan Data. Sehingga please hati-hati dengan narasi banyak, katanya, urgent, karena hal itu sangat bias yang bisa mengarahkan kita ke keputusan yang salah

Terakhir adalah Rapidly Prototype. Sangat penting untuk memvalidasi sebuah hipotesa, karena asumsi bisa menjadi jebakan batman. Belum tentu yang kamu rasakan dirasakan juga oleh orang lain

Great People

We need teams of missionaries, not mercenaries. — John Doerr

Successful teams…

  • Are given clear objectives.
  • Must be empowered.
  • Must be accountable. They need to feel ownership.
  • Are responsible for their *outcomes*, not *outputs*.
  • Are autonomous.
  • Minimize dependencies.
  • Stay together. Relationships build and expertise deepens.

Saya rasa people adalah poin penting dalam product development, jika orang-orangnya gak punya motivasi, tentu saja sebagai pemilik akan lelah untuk coaching dan memberikan motivasi ke pegawainya. Sehingga mempunyai tim yang memiliki mental missionaries adalah hal yang sangat-sangat crucial

Great Product Managers

Di dalam sebuah product development, product manager memegang peranan penting sebagai mini-CEO dari keberhasilan product itu. Jadi Product Manager yang dibutuhkan, tabel dibawah ini menggambarkan dengan baik

Selain itu di berbagai kesempatan ada pertanyaan, apa bedanya product manager dan project manager. Project manager adalah orang yang punya objective on scope, on budget, on time sedangkan product manager adalah orang yang punya mindset how to make customer happy dan tidak jarang at any cost

Great Outcomes

Most product roadmaps are the root cause of most waste and failed efforts in product organizations.Completing a roadmap is not the goal,  Just because you finish a roadmap doesn’t mean a thing.

Barang tentu dalam sebuah product development dibutuhkan sebuah roadmap, akan tetapi roadmap bisa menjadi biang keladi kegagalan kita. Apa yang salah dari product Roadmap

  1. Saat project sudah di roadmap, roadmap itu menjadi komitmen
  2. Fitur yang ada di dalam roadmap tidak menyelesaikan masalah apapun

Dari sini, roadmap adalah sebuah panduan buat kita saat melakukan product development, pertanyaanya apakah bisa berubah? tentu bisa jika keinginan customer berubah atau market berubah. Tentu tidak masuk akal kita tetap memaksakan development mengikut roadmap yang dimana jelas-jelas roadmap itu sudah tidak relevan dengan market saat ini

Great Process

It’s so much more important to discuss the product development process (analyzing the market, understanding competition, creating ideas, testing features, iterating, etc) than the more narrow focused execution process that “Agile” teams typically follow.

Di dalam buku ini, proses yang dibicarakan bukanlah Agile yang biasa kita baca di buku-buku, akan tetapi bagaimana product development bisa adaptive terhadap kondisi market yang ada

Tips and strategies for defining the product:

  • Do customer interviews. — Remember assumption will kill you
  • Pretend you are the customer using your product. Pre-write your press release. What would it say?
  • Prototype everything!
  • Do not customize your product for any one customer. You are creating a general product.

Traits of a great product development process:

  • Spend time on discovery. Collect evidence about what will work for the customer, engineering, and business.
  • PMs help customers understand what is possible. They think deeply about the problems their software solves and what customers will ultimately want.
  • Validate ideas on real customers (prototypes).
  • Validate business feasibility. Just because our customers love it, engineers can create it, does it work for our business? Can we sell it, maintain it, does it work for legal, etc.

Dan yang terakhir adalah test hipotesa yang telah kamu buat saat membuat startup/solusi/fitur apapun, jawab pertanyaan berikut terlebih dahulu

  • What problem will this solve?
  • Who are we solving a problem for and how big is that market?
  • What alternatives do competitors provide and why are we the ones who can succeed in this?
  • What factors are critical to success (e.g. partnerships with distributors)?
  • What metrics will we use to measure our success?
  • Why is this the right time to enter the market and what is our go-to-market strategy (i.e. how will we sell the product)?
  • Based on the above questions, is this an opportunity we should pursue?

Bagaimana anda masih percaya diri membangun sebuah startup? 🙂