Beberapa hari yang lalu saya tertarik dengan sebuah post di Linkedin (bisa di lihat foto di bawah ini), dan barang tentu ada pro dan kontra. Argumentasi yang pro adalah : Money always follow your effort (not the other way around) , sedangkan yang kontra : No, this ain’t rite. This is exploitation, stop romanticizing it. Kamu setuju yang mana?

Saya juga sempat mem-post ini di IG story dan melakukan voting, dan hasilnya 60% tidak setuju. Bagaimana dengan pendapat saya ? Saya 50:50, karena bisa jadi tidak setuju karena (1) Perusahaan atau bos-nya (as representasi perusahaan) melihat ada anak rajin nih, di-eksploitasi lah dia (2) Perusahaan atau bos-nya no clue mengenai jenjang karir anak tersebut, akhirnya ya yang bisa dilakukan adalah memberikan janji-janji manis, Akan tetapi saya juga setuju, karena culture perusahaannnya seperti itu, di challenge dulu, baru poromosi. Tetapi saya tidak cocok dengan approach itu, gimana dong? cari perusahaan lain yang sesuai dengan gaya kerja kamu. Agar tidak ada pihak yang dirugikan harus bagaimana? Ada 4 step yaitu :

  1. Communication
  2. Monitoring
  3. Result Assessment

Communication

Ini adalah part terpenting, kenapa? karena bisa jadi ada miss expectation. Contoh paling gampang adalah bagi si karyawan, pekerjaan itu setara dengan 4 orang, sedangkan buat bos nya, pekerjaan itu adalah pekerjaan normal buat 1 orang (Hiaaa). Ya jelas saja, sampai akhir khiamat juga si bos gak akan promosiin ini. Terus gimana dong? Ya karyawan harus bisa mengkomunikasikan ini, karena bagaimanapun si bos gak punya ilmu kebhatinan. Permasalah lain adalah jika si karywan gak berani ngomong, disini si bos harus pro-active kepada karyawan-nya menjelaskan target yang harus dicapai ma karyawannya, sehingga sama-sama fair

Masalahnya, bagaimana jika bos-nya sendiri no idea dan tidak bisa mengkomunikasikan dengan baik ke pegawainya mengenai (1) Target yang harus dicapai (2) Skill yang harus dipunya (3) impact dari pekerjaan, dll. Kalau kondisinya seperti itu, ya pegawai yang mau gak mau harus pro-active tanya, toh gak ada salahnya nyoba daripada penasaran dan kepikiran atau parahnya di akhir penilaian gak sesuai harapan

Disini keterbukaan adalah kunci komunikasi, semakin banyak yang ditutupi, semakin banyak kemungkinan miss-interpretasi, kalau sudah gini, ya berdasarkan ilmu kebatinan

Monitoring

Ini hal ke-2 yang penting, setelah sepakat target yang harus dicapai oleh karyawannya (let’s say) selama 1 tahun, perlu dilakukan 1-on-1 secara berkala bisa sebulan sekali atau 3 bulan sekali, untuk apa ? untuk memastikan semuanya on-track. Dan kalaupun ada yang gak sesuai bisa diidentifikasi lebih awal

Result Assessment

Setelah menentukan target dan monitoring berkala, tentu saja di masa assessment disini akan lebih gampang untuk menilai dan tidak terlalu subjektif. Dengan 2 hal itu, result assessment bisa lebih fair karena (1) sudah ada kesepakatan dan komitmen di awal (2) ada monitoring secara berkala, sehingga jika pegawai atau bos tau bahwa pegawai tidak achieve targetnya, tentu cukup fair kalau tidak mendapatkan nilai bagus atau tidak promosi, sehingga pegawai tidak kaget. Dan, berlaku sebaliknya

Yang sering menjadi masalah adalah saat target sudah tercapai dan ternyata tidak bisa promosi, bagaimana dong? Pada saat seperti ini, lagi-lagi keterbukaan adalah kunci, seorang bos harus menceritakan kenapa secara transparan, misal karena keuangan perusahaan sedang tidak bagus. Dengan begini, meminimalisir kesalahpahaman