Memoar mantan Direktur FBI ini berargumen bahwa pemimpin yang baik harus setia pada kebenaran dan institusi, bukan pada satu orang, sambil mengakui bahwa penulisnya sendiri tak luput dari kesalahan.
Apa yang Anda lakukan ketika seorang presiden mengundang makan malam berdua, lalu berkata, “Saya butuh kesetiaan”? Kebanyakan dari kita mungkin akan tersenyum kikuk dan mengangguk. James Comey memilih diam, dan diam itu ikut mengantarnya ke pemecatan.
Comey meniti karier sebagai jaksa yang menangani kasus mafia di New York, lalu menjadi Wakil Jaksa Agung, dan akhirnya Direktur FBI sampai dipecat Donald Trump pada Mei 2017. Buku ini terbit setahun kemudian. Separuh pertamanya memoar karier, separuh sisanya kesaksian tentang dua tahun paling panas hidupnya: penyelidikan email Hillary Clinton dan pertemuannya dengan Trump.
Gagasan besarnya sederhana. Institusi penegak hukum hidup dari kepercayaan publik, dan kepercayaan itu hanya bertahan kalau pemimpinnya setia pada sesuatu yang lebih tinggi daripada atasan, yaitu kebenaran, hukum, dan aturan main. Comey membandingkan tuntutan kesetiaan pribadi ala Trump dengan budaya keluarga mafia yang dulu ia adili. Perbandingan itu tajam, dan memang sengaja dibuat tajam.
Selama bertahun-tahun membangun produk dan memimpin tim, saya sering melihat versi mini dari dilema ini. Atasan ingin kabar baik, tim ingin aman, dan angka pun pelan-pelan dipoles. Maka saya membaca buku ini sambil bertanya pada diri sendiri: kapan terakhir kali saya menyampaikan data yang tidak enak didengar?
Berikut 3 pelajaran dari buku ini:
- Kesetiaan butuh alamat yang tepat, yaitu prinsip dan institusi, bukan seseorang.
- Kepemimpinan etis dimulai dari kerendahan hati dan keberanian bicara di ruangan.
- Tidak memutuskan juga sebuah keputusan, dan setiap pilihan ada harganya.
Mari kita mulai.
Pelajaran 1: Setialah pada kebenaran dan institusi, bukan pada orang.
Adegan paling terkenal di buku ini terjadi pada 2004. Jaksa Agung John Ashcroft terbaring sakit di rumah sakit, sementara dua utusan Gedung Putih bergegas ke sana agar ia menandatangani perpanjangan program pengawasan yang dinilai bermasalah secara hukum oleh Departemen Kehakiman. Comey, wakilnya, ikut berpacu menuju kamar itu bersama Robert Mueller. Ancaman pengunduran diri para pejabat akhirnya membuat programnya direvisi.
Pelajarannya: kesetiaan perlu alamat. Kalau alamatnya satu orang, ia gampang dibelokkan, sebab orang bisa keliru, takut, atau tergoda. Kalau alamatnya prinsip, kesetiaan itu tetap bertahan ketika bos berganti.
Di dunia startup, godaannya hadir dalam bentuk lebih kecil. Tim ingin menyenangkan founder, founder ingin menyenangkan investor, dan pengguna lama-lama jadi pihak terakhir yang didengar. Tim produk yang sehat setia pada pengguna dan fakta lebih dulu, baru kemudian pada siapa pun yang menandatangani gaji.
Pelajaran 2: Pemimpin etis memulai dari kerendahan hati dan berani bicara di ruangan.
Comey menyarankan hal yang terdengar sepele: duduklah di meja, bukan di kursi pinggir ruangan. Pemimpin yang memilih jadi penonton akan ikut menyetujui apa pun yang lewat. Ia sendiri mengaku menyesal tidak langsung membantah ketika Trump mulai meminta hal-hal yang janggal. Diam di ruangan itu ternyata terasa lebih berat daripada bicara.
Ada ironi yang menarik di sini. Comey fasih sekali bicara soal bahaya ego, padahal ia sering menempatkan dirinya sebagai satu-satunya orang waras di sebuah adegan. Namun justru karena itu pelajarannya terasa manusiawi: kerendahan hati bukan sifat bawaan, melainkan latihan harian, dan penulisnya pun masih berlatih.
Kebiasaan ini bisa kita tiru. Dalam rapat, pertanyaan “apa yang kita abaikan?” lebih berguna daripada anggukan serempak.
Pelajaran 3: Tidak memutuskan juga sebuah keputusan, dan setiap pilihan ada harganya.
Bagian terpanas buku ini membahas penyelidikan email Clinton. Comey mengumumkan hasilnya secara terbuka pada Juli 2016, lalu mengirim surat ke Kongres pada Oktober ketika ditemukan email baru. Alasannya, menyembunyikan temuan itu lalu terbongkar setelah pemilu akan menghancurkan kepercayaan publik pada FBI. Para pengkritik berpendapat langkah itu justru merugikan Clinton, dan sampai sekarang perdebatannya belum selesai.
Saya tidak sepenuhnya yakin ia benar. Tetapi saya paham logikanya: ketika semua jalan punya biaya, memilih “tidak melakukan apa-apa” hanyalah memilih biaya yang tersembunyi. Saat menyelam, kita tidak bisa memutuskan untuk menunda memeriksa sisa udara, karena menunda itu sendiri sudah sebuah pilihan. Hal yang sama berlaku ketika meluncurkan produk dengan data yang belum lengkap.
Review A Higher Loyalty
Kekuatan buku ini ada pada tuturannya. Comey bercerita dengan hidup, adegan rumah sakit dan makan malam di Gedung Putih terbaca seperti thriller, dan ia punya telinga yang baik untuk detail. Ia juga menawarkan kerangka etika kepemimpinan yang bisa dipakai siapa saja, bukan hanya orang pemerintahan.
Kelemahannya, ia terlalu mencintai citra dirinya sebagai penjaga moral. Bab Clinton terasa defensif, dan sindiran soal penampilan fisik Trump terasa murahan untuk penulis yang mengaku menjunjung integritas. Meski begitu, sebagai potret bagaimana institusi bisa retak oleh tuntutan kesetiaan pribadi, buku ini tetap layak dibaca dengan kepala dingin dan alis sedikit terangkat.
Untuk siapa saya merekomendasikan ringkasan A Higher Loyalty ini?
Buku ini cocok untuk manajer dan founder yang sering terjepit antara menyenangkan atasan dan menyampaikan fakta, untuk pembaca politik dan hukum yang ingin memahami drama FBI dari dua kubu, serta untuk siapa pun yang sedang menimbang apakah harus bicara ketika semua orang memilih diam. Kalau Anda mencari analisis netral, carilah di tempat lain, sebab ini kesaksian dari satu pihak yang sadar betul sedang membela namanya.