The Death of Expertise : Kesetaraan Hak Bukan Kesetaraan Pengetahuan

Tom Nichols berargumen bahwa kelimpahan informasi membuat orang awam merasa setara dengan para ahli, dan bahwa sikap itu pelan-pelan merusak demokrasi yang hendak mereka bela.

Pernahkah Anda berdebat dengan seorang paman di grup keluarga yang bersikeras sudah “riset sendiri” soal vaksin? Saya pernah. Saya kalah, bukan karena argumennya kuat, melainkan karena ia tidak tahu caranya mengalah. Hasilnya tiga hari suasana canggung dan satu stiker WhatsApp yang menyakitkan.

Wilayah itulah yang digarap Tom Nichols, profesor keamanan nasional di US Naval War College sekaligus pakar urusan Rusia. Bukunya terbit pada 2017, ketika wibawa para spesialis sedang dikuliti di televisi, kolom komentar, dan meja makan. Ironinya terang: seorang ahli menulis tentang matinya keahlian, dan ia sadar betul betapa mudahnya hal itu disambut dengan dengusan sinis.

Tesisnya sering disalahpahami. Nichols tidak berkata bahwa ahli selalu benar, dan ia tidak menginginkan pemerintahan para teknokrat. Ia menuduh kita mencampuradukkan dua hal: kesetaraan hak dan kesetaraan pengetahuan. Setiap warga berhak bersuara, tetapi tidak setiap suara sama bobotnya ketika topiknya fisika nuklir atau dosis antibiotik.

Tersangkanya banyak: mesin pencari yang melahirkan ilusi paham, kampus yang memperlakukan mahasiswa sebagai pelanggan, media yang mengejar klik, dan para ahli yang sesekali memang keliru. Nadanya jengkel, dan kejengkelan itu sekaligus menjadi tenaga dan titik lemah buku ini.

Berikut 3 pelajaran dari buku ini:

  • Merasa tahu bukanlah tahu, dan orang yang paling kurang paham sering paling yakin.
  • Ahli bisa salah, tetapi menimbang mereka lebih ringan daripada orang awam adalah taruhan yang buruk.
  • Demokrasi yang sehat butuh warga yang menentukan arah dan ahli yang menyediakan pilihan.

Mari kita mulai.

Pelajaran 1: Merasa tahu bukanlah tahu.

Nichols memulai dari psikologi. Efek Dunning-Kruger menunjukkan bahwa orang yang kurang kompeten kerap tidak punya bekal untuk menyadari kekurangannya. Tambahkan bias konfirmasi, yaitu kecenderungan mencari bukti yang menyenangkan hati, dan Anda mendapat resep sempurna untuk keyakinan yang kokoh di atas fondasi rapuh.

Internet mempercepat semuanya. Dua puluh menit membaca artikel membuat kita merasa sudah belajar, padahal seorang dokter menempuh belasan tahun untuk memahami apa yang tidak ia ketahui. Keahlian bukan sekadar tumpukan fakta. Ia adalah disiplin, koreksi sejawat, dan pengalaman salah yang berulang.

Penerapannya sederhana dan agak memalukan. Sebelum membagikan sebuah “temuan”, tanyakan apakah saya benar-benar menguasai bidang ini, atau hanya sedang menikmati rasa pintar. Saya sendiri sering gagal di ujian kecil itu.

Pelajaran 2: Ahli bisa salah, tetapi tetap taruhan yang lebih baik.

Argumen favorit para penentang keahlian adalah daftar kegagalan: krisis keuangan yang tak terduga, saran gizi yang berbalik arah. Nichols mengakui semuanya. Namun ia menunjukkan logika yang timpang. Kesalahan ahli diperlakukan sebagai bukti bahwa semua ahli tak berguna, sementara kesalahan orang awam dianggap sekadar selisih pendapat.

Bedanya ada pada proses. Ahli bekerja dalam sistem yang mengoreksi diri, dan itu sebabnya kita tahu mereka pernah keliru. Pilot juga pernah menjatuhkan pesawat, tetapi tak seorang pun memilih naik pesawat yang diterbangkan penumpang paling percaya diri.

Nichols juga menagih kewajiban para ahli. Mereka perlu mengakui batas pengetahuannya, berhenti berspekulasi di luar bidangnya, dan tidak menjadikan gelar sebagai tameng. Kepercayaan publik bukan hak otomatis, melainkan sesuatu yang dirawat.

Pelajaran 3: Warga memilih tujuan, ahli menyediakan jalan.

Di sini Nichols paling dewasa. Dalam demokrasi, keputusan akhir tetap milik warga dan wakilnya, sebab soal nilai dan prioritas bukan wilayah teknokrat. Namun ahli ibarat peta dan kompas. Kita boleh memutuskan hendak ke mana, tetapi sulit bersikeras bahwa jurang di depan itu hanya tafsir.

Ketika hubungan ini retak, dua bahaya muncul. Warga menolak masukan ahli demi harga diri, atau menyerahkan segalanya kepada ahli demi kenyamanan. Keduanya sama-sama bentuk kemalasan. Nichols meminta sesuatu yang lebih sulit: kerendahan hati dua arah, dan kesediaan mendengar tanpa merasa dihina.

Review The Death of Expertise

Kekuatan buku ini ada pada kejelasan dan keberaniannya menyebut hal yang tidak enak. Pembedaan antara kesetaraan hak dan kesetaraan pengetahuan layak dikutip di setiap seminar kewarganegaraan. Nichols juga adil dengan mengakui dosa kaum ahli, bukan hanya menyalahkan massa.

Kekurangannya, buku ini tipis dan kadang berceramah. Bukti empirisnya lebih banyak berupa anekdot dan kutipan ketimbang data baru, dan nada kesalnya bisa membuat pembaca yang ia kritik justru menutup buku. Ia juga kurang menggali mengapa kepercayaan runtuh pada kelompok yang merasa pernah dikhianati lembaga. Sebagai peringatan buku ini tepat sasaran, tetapi sebagai diagnosis ia belum tuntas.

Untuk siapa saya merekomendasikan ringkasan The Death of Expertise ini?

Saya merekomendasikannya kepada jurnalis dan editor yang bergulat dengan sengketa fakta, dosen dan guru yang menghadapi murid berbekal tangkapan layar, serta ilmuwan dan dokter yang ingin tahu mengapa penjelasan mereka ditolak. Buku ini juga cocok bagi siapa pun yang pernah kalah debat di grup keluarga dan ingin tahu alasannya, termasuk pembaca yang bersedia menengok kebiasaan mereka sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *