Jimmy Carter berargumen bahwa kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan adalah pelanggaran hak asasi manusia terbesar di zaman kita, dan bahwa tafsir agama yang bias serta diamnya orang-orang berkuasa membuatnya terus berlangsung.
Apa yang dilakukan seorang mantan presiden dan peraih Nobel Perdamaian ketika usianya sudah senja? Kebanyakan menulis memoar yang nyaman. Jimmy Carter memilih menulis tentang hal yang membuat banyak orang risih: nasib separuh penduduk bumi. Hasilnya adalah A Call to Action, buku yang lebih mirip khotbah berbasis data daripada kajian akademik.
Carter bukan pengamat netral. Ia presiden ke-39 Amerika Serikat, puluhan tahun berkeliling dunia lewat Carter Center, dan seorang Baptis yang taat. Pada tahun 2000 ia keluar dari Southern Baptist Convention setelah organisasi itu menegaskan bahwa istri harus tunduk pada suami dan perempuan tidak boleh menjadi pendeta. Buku ini bisa dibaca sebagai kelanjutan dari keputusan itu, yaitu upaya menjelaskan mengapa ia tidak bisa lagi diam.
Tesisnya lugas. Penindasan terhadap perempuan dan anak perempuan adalah pelanggaran hak asasi yang paling serius, paling meluas, dan paling diabaikan. Daftarnya panjang: sunat perempuan, pernikahan anak, perdagangan manusia, pemerkosaan di kampus dan militer, pembunuhan demi kehormatan, kesenjangan upah, sampai aborsi selektif berdasarkan jenis kelamin. Ia menolak anggapan bahwa ini urusan negeri jauh. Amerika, katanya, punya bagian dosanya sendiri.
Selama bertahun-tahun membangun produk, saya belajar bahwa masalah yang tidak punya pemilik dan tidak punya angka akan mendekam selamanya di backlog. Buku ini pada dasarnya memindahkan satu masalah dari backlog ke prioritas utama. Dan sebagai orang yang kini mengurus produk ibadah lewat MyIbadah, saya peka pada pertanyaan yang diajukan Carter: siapa yang berhak menafsirkan teks suci?
Berikut 3 pelajaran dari buku ini:
- Penindasan perempuan adalah krisis hak asasi yang terlalu lama dianggap biasa.
- Teks agama tidak bersalah, tetapi tafsir yang dimonopoli satu pihak bisa menjadi alat kuasa.
- Orang yang punya pengaruh wajib bertindak, dan diam adalah pilihan yang punya akibat.
Mari kita mulai.
Pelajaran 1: Penindasan perempuan adalah krisis hak asasi yang terlalu lama dianggap biasa.
Kekuatan argumen Carter ada pada skala dan pembiasaan. Anak perempuan yang dinikahkan sebelum waktunya kehilangan sekolah, kesehatan, dan pilihan hidup sekaligus. Jutaan perempuan “hilang” dari statistik penduduk karena aborsi selektif dan penelantaran. Karena terjadi di rumah, di desa, atau di barak, semuanya mudah dibungkus dengan kata “tradisi”.
Di dunia produk ada pepatah yang saya pegang: apa yang tidak diukur tidak akan dikelola. Carter melakukan hal serupa. Ia menyusun fakta, menyebut nama praktiknya, dan menolak eufemisme. Ia juga menolak dalih relativisme budaya. Menurutnya, “ini adat mereka” bukan jawaban ketika yang dirugikan adalah anak berusia belasan tahun.
Pelajaran praktisnya berlaku jauh di luar isu gender. Masalah besar sering bertahan bukan karena tidak terlihat, tetapi karena terlalu akrab. Kita perlu bertanya apa saja yang selama ini kita anggap “memang begitu” di kantor, di rumah, dan di lingkungan kita.
Pelajaran 2: Teks agama tidak bersalah, tetapi tafsir yang dimonopoli satu pihak bisa menjadi alat kuasa.
Ini bagian paling berani sekaligus paling personal. Carter berpendapat bahwa Yesus memperlakukan perempuan sebagai setara, dan bahwa gereja awal memberi ruang kepemimpinan bagi mereka. Seiring waktu, para pemimpin laki-laki memilih ayat yang menguntungkan dan mengabaikan sisanya. Ia menegaskan bahwa gejala ini tidak eksklusif milik satu agama.
Saat bekerja dengan konten keagamaan, saya belajar bahwa pertanyaan terpenting bukan “apa kata teksnya” saja, melainkan “siapa yang menafsirkan, dan siapa yang diuntungkan”. Sikap rendah hati terhadap sumber tidak sama dengan menyerahkan akal kepada penafsir. Carter tidak meninggalkan imannya. Ia justru kembali ke sana dan menuntut pembacaan yang lebih adil.
Pelajarannya jelas: kritik terhadap tafsir bukan serangan terhadap iman. Sering kali itu bentuk kesetiaan yang paling serius.
Pelajaran 3: Orang yang punya pengaruh wajib bertindak, dan diam adalah pilihan yang punya akibat.
Carter menutup bukunya dengan ajakan: pemimpin agama, pembuat kebijakan, dan warga biasa harus bergerak. Ia menyebut dukungan pada pendidikan anak perempuan, penegakan hukum, dan keberanian bersuara, termasuk lewat kelompok The Elders yang ikut ia dirikan. Solusinya tidak rumit. Yang langka adalah kemauan.
Sebagai pemimpin tim, saya belajar satu hal yang tidak enak: diam juga keputusan. Ketika kita membiarkan komentar yang meremehkan lewat begitu saja, tim membaca bahwa itu bisa diterima. Satu kejadian kecil, satu keputusan untuk bicara atau tidak, dan satu pelajaran tentang budaya yang kita bentuk tanpa sadar.
Review A Call to Action
Kekuatan buku ini ada pada otoritas moral penulisnya dan keluasan cakupannya. Carter menulis dengan bahasa sederhana, membawa pengalaman lapangan puluhan tahun, dan berani menegur komunitas imannya sendiri. Bagi pembaca yang baru memasuki topik ini, buku ini berfungsi sebagai peta yang rapi.
Kelemahannya terus terang cukup terasa. Karena terlalu banyak yang ingin dibahas, tiap isu hanya mendapat porsi singkat, dan beberapa bab terasa seperti daftar keprihatinan yang diulang. Kacamata Kristennya dominan, sementara solusi struktural lebih banyak berupa seruan daripada rencana. Nada khotbahnya kadang mengalahkan analisis. Meski begitu, buku ini tetap berguna sebagai pemantik, bukan sebagai kata akhir.
Untuk siapa saya merekomendasikan ringkasan A Call to Action ini?
Saya merekomendasikannya bagi pemimpin tim dan pendiri startup yang ingin membangun budaya kerja yang adil, tokoh atau pegiat komunitas keagamaan yang gelisah dengan tafsir yang timpang, mahasiswa dan pembaca pemula di bidang kajian gender yang butuh gambaran luas sebelum menyelam ke riset khusus, serta siapa pun yang mulai bertanya mengapa sesuatu yang jelas keliru bisa bertahan begitu lama.