Kissinger berargumen bahwa perdamaian dunia tidak lahir dari niat baik semata, melainkan dari keseimbangan kekuatan yang diterima sebagai sah oleh para pemainnya, dan keseimbangan itu kini mulai goyah.
Bayangkan pesta makan malam dengan hampir dua ratus tamu. Tidak ada tuan rumah, tidak ada denah tempat duduk, dan sebagian tamu menyimpan senjata nuklir di balik jas. Kira-kira begitulah dunia yang kita huni, dan buku ini adalah upaya seorang diplomat tua untuk menjelaskan mengapa pesta itu belum berakhir berantakan.
Henry Kissinger adalah penasihat keamanan nasional sekaligus menteri luar negeri Amerika Serikat pada masa Nixon dan Ford. Ia peraih Nobel Perdamaian 1973, dan juga salah satu tokoh yang paling sering dikecam di abad ke-20. Ia menulis World Order pada usia 91 tahun, jadi buku ini terasa seperti kesimpulan dari seumur hidup bermain catur geopolitik.
Gagasan besarnya sederhana namun berat. Tatanan internasional bertumpu pada dua pilar: legitimasi (kesepakatan tentang aturan main yang dianggap adil) dan keseimbangan kekuatan (cukup banyak daya sehingga tak ada yang berani melanggarnya). Salah satu pilar saja tidak cukup. Aturan tanpa kekuatan hanyalah kumpulan kalimat indah, sedangkan kekuatan tanpa legitimasi hanya mengundang perlawanan.
Kissinger lalu berkeliling dunia. Ia menelusuri tatanan Westphalia di Eropa, cara pandang dunia Islam, tradisi Tiongkok, hingga idealisme Amerika yang gemar berkhotbah. Pesannya, setiap peradaban membayangkan tatanan menurut sejarahnya sendiri, dan para pemimpin yang lupa hal ini akan membuat kesalahan mahal.
Berikut 3 pelajaran dari buku ini:
- Tatanan yang bertahan membutuhkan legitimasi sekaligus keseimbangan kekuatan.
- Setiap kawasan memiliki konsep tatanan sendiri, dan sejarah menjelaskan alasannya.
- Idealisme tanpa realisme berbahaya, apalagi di era senjata nuklir dan dunia siber.
Mari kita mulai.
Pelajaran 1: Tatanan yang bertahan membutuhkan legitimasi sekaligus keseimbangan kekuatan.
Titik berangkat Kissinger adalah Perdamaian Westphalia tahun 1648, yang mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun. Eropa yang lelah saling membantai akhirnya menyepakati satu prinsip: setiap negara berdaulat atas wilayahnya, dan tidak ada yang berhak memaksakan keyakinannya kepada yang lain. Tak ada pemerintah dunia. Yang ada hanyalah negara-negara yang saling menahan.
Contoh favorit Kissinger adalah Kongres Wina 1815. Setelah Napoleon tumbang, para pemenang tidak menghancurkan Prancis, melainkan memasukkannya kembali ke meja perundingan. Hasilnya hampir seratus tahun tanpa perang besar di Eropa. Ketika keseimbangan itu mengendur dan Jerman bangkit tanpa wadah yang disepakati, Perang Dunia I meledak.
Penerapannya mudah dikenali. Rapat keluarga, kantor, atau koalisi partai pun mengikuti hukum yang sama. Aturan yang dianggap adil tetapi tak punya penegak akan dilanggar. Penegak yang dianggap semena-mena akan digulingkan.
Pelajaran 2: Setiap kawasan memiliki konsep tatanan sendiri, dan sejarah menjelaskan alasannya.
Westphalia adalah resep Eropa, bukan hukum alam. Dunia Islam, misalnya, lama membayangkan tatanan sebagai satu wilayah iman yang dipimpin kekhalifahan, sehingga batas negara modern terasa seperti barang impor. Tiongkok membayangkan dirinya pusat dunia, dengan negara lain sebagai penyetor upeti. Kissinger menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah dan ketegangan dengan Beijing sering muncul karena pihak-pihak yang berunding memakai kamus berbeda tanpa menyadarinya.
Saya teringat ketika bekerja sama dengan kolega dari budaya yang berbeda. Kata “ya” ternyata bisa berarti “saya dengar”, bukan “saya setuju”. Hal yang sama, dalam skala jutaan nyawa, berlaku bagi diplomasi. Memahami sejarah lawan bicara bukan kemurahan hati, melainkan syarat dasar bernegosiasi.
Pelajaran 3: Idealisme tanpa realisme berbahaya, apalagi di era senjata nuklir dan dunia siber.
Amerika, menurut Kissinger, adalah negara yang yakin bahwa nilai-nilainya bersifat universal. Keyakinan itu mulia, tetapi sering membuat Washington menyebarkan demokrasi dengan kekuatan militer tanpa menghitung ongkos dan hasil akhirnya. Intervensi di Irak dan Libya menjadi bahan pelajarannya. Menumbangkan tatanan lama itu mudah, sedangkan membangun penggantinya yang sah jauh lebih sulit.
Tantangan baru memperparah soal ini. Senjata nuklir membuat perang antarkekuatan besar nyaris mustahil dimenangkan, sementara serangan siber mengaburkan siapa musuh dan kapan perang dimulai. Kissinger tidak menolak nilai-nilai, ia hanya meminta para pemimpin menimbang antara apa yang diinginkan dan apa yang bisa dicapai.
Review World Order
Kekuatan buku ini terletak pada rentang dan wibawanya. Sedikit penulis bisa berpindah dari Cardinal Richelieu ke Zhou Enlai dengan nada orang yang pernah duduk semeja dengan penerusnya. Kerangka legitimasi dan keseimbangan kekuatan juga berguna sebagai lensa untuk membaca berita harian. Prosanya tertata, kadang dingin, tetapi jarang membosankan.
Kelemahannya juga jelas. Kissinger menulis seperti orang yang menilai sejarah dari ruang rapat para raja, sehingga rakyat, gerakan sosial, dan korban kebijakan nyaris tak terdengar. Ia juga terlalu ringan membahas keputusannya sendiri, misalnya di Kamboja, Chile, dan Timor Timur, padahal pembaca di Indonesia layak mempertanyakannya. Bab-bab tentang teknologi pun terasa lebih tipis daripada bab sejarahnya. Singkatnya, buku ini cemerlang sebagai peta, tetapi kurang berani memeriksa pembuat petanya.
Untuk siapa saya merekomendasikan ringkasan World Order ini?
Saya merekomendasikannya bagi mahasiswa hubungan internasional yang butuh kerangka berpikir sebelum tenggelam dalam teori, jurnalis dan analis kebijakan yang ingin memahami logika para negarawan, serta pembaca umum yang penasaran mengapa dunia sulit ditata. Pembaca yang sudah menyukai Fareed Zakaria atau Joseph Nye akan menemukan sisi yang lebih keras di sini. Siapa pun yang mencari kritik moral atas kekuasaan sebaiknya membacanya berdampingan dengan penulis lain.