The Courage to Be Disliked mengajak kita berhenti menyalahkan masa lalu, berhenti mengemis persetujuan orang lain, dan mulai hidup dengan berani karena kebahagiaan adalah pilihan yang kita ambil hari ini.
Ada buku yang membuat kita merasa lebih baik. Ada juga buku yang membuat kita merasa tertangkap basah. The Courage to Be Disliked masuk golongan kedua. Saya membacanya sambil sesekali menutup halaman, menatap langit-langit, lalu bergumam, “Oke, itu saya banget.”
Buku ini ditulis oleh Ichiro Kishimi, seorang filsuf Jepang yang lama mempelajari pemikiran Alfred Adler, dan Fumitake Koga, seorang penulis. Bentuknya tidak biasa. Tidak ada bab teori yang kaku, tidak ada daftar tips. Isinya adalah percakapan lima malam antara seorang filsuf tua dan seorang pemuda yang sinis, marah, dan yakin bahwa hidupnya sudah ditentukan oleh luka masa kecil. Pemuda itu datang untuk membantah. Kita, pembaca, ikut duduk di ruangan itu dan pelan-pelan sadar bahwa pemuda itu sebenarnya kita.
Adler sering disebut sebagai “nama ketiga” di psikologi, setelah Freud dan Jung, padahal gagasannya justru paling praktis. Ketika saya tinggal di Jepang, saya melihat sendiri betapa kuatnya tekanan untuk menyesuaikan diri, untuk tidak merepotkan, untuk selalu membaca suasana. Tidak heran buku ini meledak di sana. Ia menawarkan izin yang jarang diberikan masyarakat mana pun: izin untuk tidak disukai.
Gagasan besarnya sederhana tapi berat dijalankan. Kita tidak dikendalikan oleh masa lalu, melainkan oleh tujuan yang kita pilih. Semua masalah hidup pada dasarnya adalah masalah hubungan antarmanusia. Dan kebebasan punya harga, yaitu kesediaan untuk dibenci sebagian orang.
Berikut 3 pelajaran dari buku ini:
- Masa lalu tidak menentukan hidupmu, tujuanmu yang menentukan.
- Pisahkan tugasmu dari tugas orang lain.
- Kebebasan berarti berani tidak disukai.
Mari kita mulai.
Pelajaran 1: Masa lalu tidak menentukan hidupmu, tujuanmu yang menentukan
Ini bagian paling provokatif. Adler, lewat sang filsuf, berkata bahwa trauma versi populer itu tidak ada. Bukan berarti pengalaman buruk tidak terjadi, tapi kita yang memilih makna dari pengalaman itu. Contoh di buku: seseorang yang mengurung diri di kamar bukan karena cemas sehingga tidak bisa keluar. Ia menciptakan rasa cemas karena punya tujuan untuk tidak keluar. Kecemasan menjadi alasan yang rapi.
Awalnya saya menolak. Kedengarannya terlalu keras. Tapi lalu saya ingat masa-masa awal karier di product management. Ada fase ketika saya sering bilang, “Saya memang bukan orang yang jago presentasi.” Kalimat itu terasa seperti fakta. Padahal, kalau dipikir ulang, itu tameng. Selama saya bukan “orang yang jago presentasi”, saya tidak perlu mengambil risiko gagal di depan direksi. Kejadiannya sederhana, keputusannya adalah berhenti memakai label itu, dan pelajarannya: banyak “kelemahan” kita sebetulnya adalah strategi untuk menghindar.
Penerapannya bisa kita mulai dari satu pertanyaan kecil. Setiap kali kita berkata “saya begini karena dulu begitu”, coba ganti dengan “apa yang saya dapat dengan tetap begini?” Jawabannya sering tidak nyaman, tapi di situlah pintunya terbuka.
Pelajaran 2: Pisahkan tugasmu dari tugas orang lain
Konsep “pemisahan tugas” adalah alat paling berguna di buku ini. Caranya, tanyakan: siapa yang akan menanggung akibat akhir dari pilihan ini? Kalau jawabannya orang lain, itu tugas mereka, bukan tugas kita. Kita boleh membantu, menawarkan kuda ke sumber air, tapi kita tidak bisa memaksa kuda itu minum.
Di dunia startup, konsep ini menyelamatkan kewarasan. Sebagai CEO, saya bertugas membuat keputusan sebaik mungkin, menjelaskannya dengan terang, dan bertanggung jawab atas hasilnya. Apakah semua investor, semua anggota tim, atau semua pengguna akan suka? Itu bukan tugas saya untuk dikendalikan. Dulu saya menghabiskan terlalu banyak energi mencoba membuat setiap stakeholder puas, dan hasilnya produk yang aman, hambar, dan tidak dicintai siapa pun.
Pemisahan tugas juga berlaku ke arah sebaliknya. Kita perlu berhenti ikut campur di tugas orang lain, termasuk anak, pasangan, atau rekan kerja. Mendorong boleh, mengambil alih jangan. Adler menyebut hubungan yang sehat sebagai hubungan horizontal: bukan atasan dan bawahan, bukan penolong dan yang ditolong, tapi sesama manusia yang setara.
Pelajaran 3: Kebebasan berarti berani tidak disukai
Judul buku ini bukan ajakan untuk menjadi menyebalkan. Maksudnya lebih halus: kalau kita hidup demi pengakuan orang lain, kita sedang menjalani hidup orang lain. Mencari pengakuan adalah penjara yang pintunya kita kunci sendiri. Orang yang bebas menerima fakta pahit bahwa sebagian orang tidak akan menyukainya, apa pun yang ia lakukan.
Lalu ke mana arah hidup kalau bukan pengakuan? Jawaban Adler adalah “rasa komunitas”, yaitu perasaan bahwa kita berguna bagi orang lain. Bukan karena dipuji, tapi karena kita sendiri merasa telah berkontribusi. Perbedaannya tipis tapi menentukan. Pujian datang dari luar dan bisa dicabut kapan saja. Rasa berkontribusi tumbuh dari diri sendiri.
Buku ini juga mengajak kita hidup “di sini dan sekarang”. Hidup bukan garis lurus menuju puncak, tapi rangkaian momen, seperti tarian. Saya merasakan ini paling kuat saat diving. Di bawah air, tidak ada yang peduli target kuartal depan. Yang ada hanya napas berikutnya. Dan anehnya, justru di momen seperti itu kita merasa paling hidup.
Review The Courage to Be Disliked
Kekuatan terbesar buku ini adalah formatnya. Dialog membuat gagasan yang abstrak terasa seperti debat di warung kopi, lengkap dengan bantahan yang mungkin sedang kita pikirkan. Kalimat-kalimatnya mudah dikutip dan menempel lama di kepala. Kekurangannya, sang pemuda kadang terlalu dramatis sampai terasa seperti boneka yang sengaja dibuat kalah. Klaim bahwa trauma tidak ada juga terlalu mutlak dan perlu dibaca dengan hati-hati, terutama bagi yang sedang menghadapi luka serius. Anggap ini sebagai cermin yang tajam, bukan pengganti bantuan profesional.
Untuk siapa saya merekomendasikan ringkasan The Courage to Be Disliked ini?
Untuk siapa pun yang lelah menjadi “anak baik” di kantor, di keluarga, atau di media sosial. Untuk para pemimpin muda yang terjebak ingin disukai semua orang, dan untuk siapa saja yang merasa hidupnya tertahan oleh cerita lama tentang diri sendiri. Kalau kita sering bertanya “nanti orang bilang apa?”, buku ini adalah jawaban yang kita butuhkan, meski belum tentu yang kita inginkan.