Sprint menawarkan jadwal lima hari yang memampatkan berbulan-bulan debat menjadi satu pekan kerja terstruktur, dari masalah mentah hingga prototipe yang sudah diuji pada pelanggan.
Pernahkah Anda duduk di rapat ketiga untuk topik yang sama, dengan kopi yang sudah dingin dan keputusan yang tak kunjung datang? Saya pernah. Rasanya seperti menonton es batu meleleh sambil berharap ia berubah menjadi emas.
Jake Knapp, John Zeratsky, dan Braden Kowitz sama-sama gerah dengan pemandangan itu. Knapp mulai bereksperimen saat bekerja di Google (ia ikut mengerjakan Gmail dan Hangouts), lalu ketiganya menyempurnakan metodenya di Google Ventures bersama ratusan tim rintisan. Hasilnya bernama “sprint”, sebuah proses yang terdengar terlalu sederhana untuk berhasil, dan justru di situlah daya pikatnya.
Gagasan besarnya begini. Senin, tim memetakan masalah dan memilih satu target. Selasa, setiap orang menyusun sketsa solusi. Rabu, tim memutuskan mana yang layak dicoba. Kamis, mereka membuat prototipe yang tampak seperti produk jadi. Jumat, prototipe itu diuji pada lima pelanggan. Hanya itu, dan tidak ada rapat tanpa ujung.
Buku ini lahir di zaman ketika semua orang memuja kecepatan, tetapi sering mengira kecepatan berarti membangun lebih banyak. Sprint membalik anggapan itu: belajar dulu dengan murah, baru membangun dengan yakin. Ia seperti sepupu yang lebih disiplin dari gerakan lean startup, lengkap dengan jadwal dan pencatat waktu.
Berikut 3 pelajaran dari buku ini:
- Batasi waktu secara ketat agar keputusan sulit benar-benar diambil.
- Bekerja sendiri-sendiri di ruangan yang sama menghasilkan ide yang lebih baik daripada brainstorming massal.
- Prototipe palsu yang diuji pada lima orang mengungkap lebih banyak hal daripada berbulan-bulan berasumsi.
Mari kita mulai.
Pelajaran 1: Tenggat yang ketat memaksa keputusan sulit untuk lahir.
Kebanyakan proyek mati bukan karena ide buruk, melainkan karena tak ada yang berani menutup diskusi. Sprint menyelesaikannya dengan menetapkan satu pekan, satu tim kecil (maksimal tujuh orang), dan satu “Decider” yang berhak mengambil keputusan akhir. Ada juga seorang fasilitator yang menjaga waktu dan tidak segan menghentikan pembicara yang melantur.
Aturan lain yang terdengar sepele tetapi ampuh: ponsel dan laptop disimpan. Para penulis berpendapat bahwa perhatian penuh selama lima hari lebih berharga daripada perhatian setengah hati selama lima bulan. Saya sepakat, dan saya curiga banyak kantor diam-diam menyadarinya juga.
Contohnya Blue Bottle Coffee. Perusahaan kopi ini menjalankan sprint untuk merancang toko daringnya, dan pada akhir pekan mereka sudah tahu mana pendekatan yang dipahami pelanggan dan mana yang tidak. Tanpa tenggat, diskusi seperti itu bisa berlarut sepanjang kuartal.
Pelajaran 2: Bekerja sendiri bersama-sama mengalahkan brainstorming.
Di sini buku ini paling berani. Brainstorming kelompok, yang dipuja di banyak kantor, dituduh sebagai pemborosan: suara paling lantang menang, ide paling aman bertahan. Sebagai gantinya, tiap anggota tim menyusun sketsa solusinya sendiri secara diam-diam, lalu semua sketsa ditempel di dinding dan dinilai lewat pemungutan suara dengan stiker.
Prosesnya terasa canggung pada awalnya, apalagi bagi yang mengaku tak bisa menggambar. Namun sketsa di sini bukan seni, melainkan alat berpikir. Kotak, panah, dan tulisan tangan sudah cukup. Hasilnya, ide dari staf junior punya peluang sama besar dengan ide direktur, setidaknya sampai stiker dihitung.
Pendekatan ini juga menghormati kenyataan bahwa orang berpikir dengan cara berbeda. Sebagian cemerlang saat sendirian, sebagian lain hanya saat berdebat. Sprint memberi ruang untuk keduanya, dengan porsi menyendiri yang lebih besar.
Pelajaran 3: Palsukan produknya, tetapi jangan palsukan pembelajarannya.
Kamis adalah hari “pura-pura”. Tim membuat fasad yang cukup meyakinkan, misalnya slide yang tampak seperti aplikasi atau situs yang hanya bisa diklik di jalur tertentu. Tujuannya bukan membangun produk, melainkan membuat pelanggan bereaksi seolah produk itu ada.
Jumat, lima pelanggan diwawancarai satu per satu sementara tim mengamati dari ruang lain dan mencatat pola. Lima orang terdengar kecil, tetapi riset pengalaman pengguna lama menunjukkan bahwa jumlah segitu sudah cukup untuk menemukan sebagian besar masalah utama. Kalau tiga dari lima tersandung di tempat yang sama, Anda tak perlu uji statistik.
Manfaat terbesarnya adalah harga kegagalan. Gagal pada hari Jumat berarti kehilangan satu pekan. Gagal setelah peluncuran berarti kehilangan setahun dan sebagian reputasi.
Review Sprint
Kekuatan buku ini ada pada kepraktisannya. Jadwal per jam, daftar belanja (kertas, stiker, pencatat waktu), bahkan saran camilan, semuanya ada. Gaya bahasanya ringan, penuh kisah lapangan, dan hampir tidak ada bab yang terasa kosong. Jarang buku bisnis yang bisa dipakai besok pagi tanpa penerjemah.
Kekurangannya, ia agak terlalu percaya diri. Sprint bekerja baik untuk pertanyaan yang bisa diuji lewat prototipe, tetapi kurang cocok untuk masalah yang butuh data berbulan-bulan atau keputusan teknis yang rumit. Contoh suksesnya juga datang dari lingkungan yang mudah, yakni tim kecil, bos yang mau hadir penuh, dan perusahaan yang gemar bereksperimen. Tidak semua organisasi punya kemewahan itu, dan buku ini kurang membahas cara menyiasatinya.
Untuk siapa saya merekomendasikan ringkasan Sprint ini?
Saya merekomendasikannya untuk pendiri startup yang kehabisan dana dan waktu untuk salah arah, manajer produk yang lelah dengan rapat tanpa hasil, desainer yang ingin ide mereka diuji sebelum dibangun, serta pemilik usaha kecil yang ingin mencoba layanan baru tanpa berjudi. Jika Anda termasuk yang percaya bahwa diskusi panjang adalah tanda kerja keras, buku ini akan menjadi teguran yang menyenangkan.