Foreign Land, New Life

Lo Pergi, dan Dunia Tidak Berhenti

Ada momen ketika lo duduk di bandara, koper sudah masuk bagasi, boarding pass ada di tangan, dan tiba-tiba lo sadar: tidak ada yang bakal antar lo sampai pintu rumah malam ini. Tidak ada yang tahu lo lapar. Tidak ada yang tahu lo takut. Itu bukan dramatis. Itu kenyataan pertama yang datang ketika lo pilih hidup di negeri orang.

Dan yang bikin berat bukan jarak geografisnya. Yang bikin berat adalah lo harus belajar ulang hal-hal yang dulu lo anggap otomatis: cara beli sayur, cara bilang “maaf”, cara senyum ke tetangga tanpa terlihat aneh. Lo dewasa lagi dari awal, tapi kali ini tanpa safety net yang biasa ada di rumah.

Fase yang Tidak Ada di Brosur Beasiswa Manapun

Bulan pertama di negeri baru itu rasanya seperti main game dengan bahasa yang belum lo kuasai. Lo klik tombol yang salah terus, tapi tidak bisa keluar dari game-nya. Supermarket yang harusnya simpel tiba-tiba jadi labirin. Telepon ke landlord jadi latihan napas dulu sepuluh menit sebelum pencet dial. Dan lo mulai nanya ke diri sendiri: “Gue cukup kuat buat ini nggak?”

Yang lebih berat lagi adalah ketika lo lihat feed orang-orang di rumah masih jalan bareng, masih nongkrong di tempat yang sama, dan hidup mereka tampak berjalan tanpa lo, dengan lancar. Lo merasa ditinggal, padahal lo yang pergi. Paradoks itu sungguh melelahkan, dan tidak banyak orang yang ngomongin ini dengan terus terang.

Tapi inilah yang tidak pernah diceritakan: fase itu ada batasnya. Lo tidak akan selamanya berdiri di supermarket asing sambil pura-pura baca label produk supaya tidak kelihatan bingung. Ada titik di mana lo mulai hafal jalur bus. Ada hari di mana lo tertawa duluan sebelum orang lain selesai bicara, karena lo sudah paham kulturnya. Dan hari itu, lo sadar, lo sudah berubah tanpa pernah izin ke diri sendiri.

Versi Lo yang Tidak Akan Pernah Ada Kalau Lo Diam di Tempat

Hidup di tanah asing mengajari lo sesuatu yang tidak bisa lo pelajari dari buku manapun: lo lebih tangguh dari yang lo kira. Bukan karena lo tidak pernah nangis di kamar kost yang dingin. Justru karena lo pernah nangis, lalu besok paginya tetap bangun, tetap pergi, tetap coba lagi. Itu bukan keberanian yang heroik. Itu keberanian yang biasa saja, tapi dikerjain setiap hari.

Lo juga belajar memilih. Di negeri baru, tidak ada ekspektasi keluarga yang melayang-layang di atas kepala lo setiap makan malam. Lo bebas jadi versi diri yang mungkin selama ini lo tahan-tahan. Lo boleh pendiam. Lo boleh berisik. Lo boleh berubah haluan karir tanpa harus menjelaskan panjang lebar ke saudara yang nanya “lah, bukannya dulu mau jadi…”

Jadi kalau lo sekarang lagi di fase takut, atau lagi di fase lelah, atau lagi di fase nanya “worth it nggak sih ini semua”, dengerin ini baik-baik: versi lo yang pulang nanti, setelah semua ini, bukan orang yang sama yang berangkat dulu. Dan itu bukan kehilangan. Itu justru yang lo cari sejak awal, lo cuma belum tahu namanya waktu itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *