Sesuai judul di atas, sering kali mendengarkan fenomena bahwa orang-orang di negara kaya memilih untuk memiliki anak sedikit daripada negara miskin atau berkembang. Sebagai contoh Jepang, angka kelahiran disana sekitar 1,34 anak per wanita pada tahun 2020, sedangkan Nigeria, angka kelahiran sekitar 6,9 anak per wanita. Di Indonesia sendiri, angka kelahiran sekitar 2,3 anak per wanita pada tahun 2020, yang dimana angka ini bisa bervariasi antara kota besar dan kota kecil. Di kota besar seperti Jakarta, angka kelahiran anak per wanita cenderung lebih rendah daripada di kota kecil atau pedesaan. Menurut data dari BPS tahun 2019, angka kelahiran anak per wanita di Jakarta adalah sekitar 1,58, sedangkan di kota-kota besar lainnya seperti Bandung dan Surabaya, angka kelahiran anak per wanita adalah sekitar 2,0-2,1. Sementara itu, di kota kecil atau pedesaan, angka kelahiran anak per wanita cenderung lebih tinggi. Angka kelahiran anak per wanita di Jawa Tengah, salah satu provinsi dengan tingkat urbanisasi yang rendah, adalah sekitar 2,5-2,6. Bahkan, di Papua, angka anak per wanita mencapai 3,87.

Jadi mirip seperti Negara, Orang-orang yang tinggal di lokasi yang lebih modern (atau sejahtera) cenderung memilih anak yang lebih sedikit daripada orang yang tinggal di lokasi pedesaan. Pertanyaannya, kenapa? Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi mengapa orang di negara kaya cenderung memiliki sedikit anak dibandingkan dengan orang di negara miskin. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah pendidikan.

Orang-orang di negara kaya cenderung memiliki akses yang lebih baik terhadap pendidikan, terutama untuk perempuan. Pendidikan memberi perempuan kesempatan untuk membuat pilihan tentang kehidupan dan karir mereka, yang seringkali mencakup menunda atau membatasi penghasilan anak.

Selain pendidikan, faktor lain yang mempengaruhi perbedaan jumlah anak adalah akses terhadap layanan kesehatan. Orang di negara kaya seringkali memiliki akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan, termasuk akses terhadap kontrasepsi, yang memungkinkan orang untuk merencanakan keluarga mereka dan menghindari kehamilan yang tidak diinginkan. Di negara miskin, akses terhadap kontrasepsi dapat sangat terbatas, yang dapat menyebabkan kelahiran anak yang tidak direncanakan dan jumlah anak yang lebih banyak.

Selain itu, faktor ekonomi juga memainkan peran dalam jumlah anak yang dilahirkan. Orang di negara kaya seringkali memiliki pekerjaan yang stabil dan penghasilan yang lebih tinggi, yang dapat membuat biaya membesarkan anak lebih mahal. Karena itu, mereka mungkin memilih untuk memiliki sedikit anak agar dapat memberikan pendidikan dan perhatian yang cukup untuk setiap anak mereka. Di negara miskin, orang seringkali mengandalkan anak mereka untuk membantu mereka dalam mencari nafkah, yang dapat mempengaruhi keputusan untuk memiliki banyak anak.

Faktor budaya juga dapat memainkan peran dalam jumlah anak yang dilahirkan. Dalam beberapa budaya, memiliki banyak anak dianggap sebagai simbol status atau sebagai cara untuk memastikan dukungan di masa tua. Namun, di negara kaya, norma budaya cenderung mendukung keluarga yang lebih kecil dan menekankan pada kualitas hidup daripada kuantitas.