Capitalism, Alone menjelaskan bagaimana kapitalisme menjadi sistem ekonomi dominan dunia, mengapa versi demokratis dan otoriternya sama-sama memperbesar ketimpangan, serta pilihan politik yang bisa membuat kemakmuran lebih merata.
Kapitalisme memenangkan pertandingan, tetapi rupanya lupa menyiapkan pidato kemenangan yang meyakinkan semua penonton. Barang makin berlimpah, kekayaan bertambah, dan banyak orang tetap merasa masa depannya menyusut. Branko Milanovic memulai dari paradoks tersebut: sistem yang hampir tidak memiliki pesaing justru terus memproduksi alasan untuk dipersoalkan.
Milanovic, ekonom ketimpangan global dan mantan ekonom Bank Dunia, bukan sedang menawarkan khotbah tentang keserakahan. Buku terbitan 2019 ini memetakan dunia ketika produksi demi laba, tenaga kerja upahan, dan modal swasta telah menjadi tata bahasa ekonomi bersama. Perdebatan besarnya bukan lagi kapitalisme melawan sosialisme, melainkan kapitalisme macam apa yang akan mengatur hidup kita.
Dua model menjadi pusat pembahasannya. Kapitalisme liberal meritokratis, terutama diwakili Amerika Serikat, menggabungkan pasar dengan demokrasi dan janji penghargaan atas kemampuan. Kapitalisme politik, terutama diwakili Tiongkok, menggabungkan kegiatan ekonomi kapitalistis dengan kekuasaan negara yang relatif otonom dari tuntutan warga. Keduanya menghasilkan pertumbuhan; keduanya juga membawa penyakit bawaan.
Yang membuat buku ini menggigit ialah penolakannya terhadap cerita kemenangan yang terlalu rapi. Demokrasi tidak otomatis menjadikan persaingan adil. Pertumbuhan pesat tidak otomatis membenarkan pemerintahan otoriter. Bagi saya, pesan utamanya sederhana: menerima dominasi kapitalisme tidak berarti kita harus menerima setiap aturan permainannya, apalagi menganggap pemenangnya selalu paling berbakat.
Berikut 3 pelajaran dari buku ini:
- Kapitalisme memiliki lebih dari satu wajah, dengan risiko politik yang berbeda.
- Meritokrasi dapat mengubah keunggulan keluarga menjadi mesin pewarisan kekayaan.
- Ketimpangan global menuntut perhatian pada kewarganegaraan, mobilitas, dan kepemilikan modal.
Mari kita bedah satu per satu.
Pelajaran 1: Kapitalisme tidak memiliki satu paket politik yang wajib diikuti.
Kita sering memperlakukan pasar bebas dan demokrasi sebagai pasangan resmi. Milanovic mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah menandatangani surat nikah tersebut. Kapitalisme dapat beroperasi melalui institusi demokratis ataupun pemerintahan otoriter. Bahkan, ia membaca komunisme di sejumlah masyarakat agraris sebagai kekuatan historis yang membongkar struktur lama dan membuka jalan menuju kapitalisme modern, bukan sekadar penyimpangan yang akhirnya gagal.
Pada model liberal meritokratis, pemilu, hukum, dan kebebasan politik menyediakan mekanisme koreksi terhadap kekuasaan. Namun, pemilik kekayaan dapat memengaruhi aturan melalui pendanaan politik, akses, dan jaringan elite. Pada model kapitalisme politik, birokrasi yang kompeten memperoleh keleluasaan untuk mengejar pertumbuhan. Masalahnya, penerapan hukum yang tidak seragam membuka ruang korupsi, sementara negara harus terus menunjukkan keberhasilan ekonomi untuk mempertahankan legitimasi.
Bayangkan dua kereta menuju kemakmuran. Yang satu mengizinkan penumpang mengganti masinis, tetapi pemilik gerbong mewah punya akses khusus ke kabin. Yang lain menjanjikan perjalanan cepat, tetapi penumpang sulit mempersoalkan rutenya. Ilustrasi ini bukan penyamaan keduanya: hak politik tetap pembeda penting. Pelajaran praktisnya, saat menilai kebijakan, jangan hanya bertanya berapa pertumbuhannya. Tanyakan juga siapa yang bisa mengoreksi keputusan buruk, siapa yang kebal aturan, dan siapa yang menanggung biaya ketika mesin macet.
Pelajaran 2: Meritokrasi bisa menjadi cara elegan untuk mewariskan keunggulan.
Gambaran klasik kapitalisme memisahkan pemilik modal dari pekerja. Milanovic menunjukkan perubahan penting: orang yang memperoleh pendapatan kerja tinggi kini juga sering memiliki pendapatan modal besar. Seorang eksekutif menerima gaji fantastis sekaligus menikmati dividen dan kenaikan nilai aset. Istilah teknisnya, homoploutia, merujuk pada bertemunya posisi tinggi pada distribusi pendapatan kerja dan modal. Orang yang sama menang melalui dua pintu.
Keunggulan itu diperkuat perkawinan antarpasangan dengan pendidikan dan pendapatan serupa. Dua profesional bergaji tinggi dapat membeli rumah di kawasan dengan sekolah bagus, membiayai pendidikan mahal, serta menyediakan jaringan bagi anak-anaknya. Anak tersebut mungkin sungguh bekerja keras. Namun, kerja kerasnya ditopang landasan pacu yang tidak tersedia bagi semua orang. Meritokrasi lalu berisiko menjadi stempel terhormat bagi keuntungan yang sudah diwariskan sejak lahir.
Di sinilah kritik Milanovic paling kuat: ketimpangan tidak selalu membutuhkan tokoh antagonis yang merokok cerutu. Pilihan keluarga yang masuk akal, ketika terakumulasi, bisa memperkeras batas kelas. Karena itu, jawabannya tidak cukup berupa nasihat agar orang miskin menambah keterampilan. Akses pendidikan bermutu, pajak warisan, dan penyebaran kepemilikan modal perlu dipikirkan bersama. Bagi pembaca, pelajarannya ialah membedakan penghargaan atas usaha dari anggapan bahwa setiap hasil ekonomi pasti pantas diterima.
Pelajaran 3: Tempat lahir dan akses terhadap modal ikut menentukan peluang hidup.
Paspor mungkin dokumen paling menguntungkan yang kita terima tanpa wawancara kerja. Milanovic membahas keuntungan kewarganegaraan: penghasilan seseorang sangat dipengaruhi negara tempat ia lahir atau bekerja, bukan hanya pendidikan dan usahanya. Pekerja dengan keterampilan serupa bisa memperoleh imbalan sangat berbeda di dua negara. Karena itu, ketimpangan global tidak bisa dibaca hanya melalui perbandingan orang kaya dan miskin di satu wilayah.
Pertumbuhan Asia, khususnya Tiongkok, membantu mempersempit sebagian kesenjangan antarpenduduk dunia, sementara kesenjangan internal di banyak negara tetap membesar. Dua kecenderungan itu dapat terjadi bersamaan. Migrasi pun menjadi persoalan ekonomi sekaligus moral: perpindahan pekerja dapat menaikkan pendapatannya, tetapi negara tujuan menghadapi perdebatan tentang layanan publik dan keanggotaan politik. Usulan Milanovic untuk mempertimbangkan pemisahan sebagian hak tinggal, bekerja, dan kewarganegaraan patut diuji kritis karena berisiko menciptakan lapisan warga dengan hak berbeda.
Untuk mengurangi ketimpangan, ia juga mengusulkan akses kepemilikan modal yang lebih luas, bukan hanya pembagian ulang penghasilan setelah kekayaan terkonsentrasi. Contohnya, kebijakan pajak yang mendukung pemilik aset kecil dan akses pendidikan yang lebih setara. Ini bukan resep cepat menjadi investor. Intinya bersifat institusional: lebih banyak orang perlu memiliki sumber pendapatan produktif. Kapitalisme akan sulit terasa inklusif jika mayoritas hanya menjual waktu, sementara sebagian kecil terus mengumpulkan aset.
Review Capitalism, Alone
Kekuatan buku ini terletak pada skala pandangnya. Milanovic menghubungkan keluarga, kelas, negara, dan sejarah global tanpa mereduksi semuanya menjadi soal watak pribadi. Ia juga mengusik kecenderungan kapitalisme untuk mengubah semakin banyak kegiatan hidup menjadi transaksi. Hasilnya bukan bacaan motivasi keuangan, melainkan peta kekuasaan ekonomi yang menantang kebiasaan kita menilai kesuksesan.
Keterbatasannya, pembagian dua model besar kadang meratakan keragaman antarnegeri, sementara sejumlah usulan kebijakannya menyisakan persoalan pelaksanaan dan hak politik. Pembaca yang mencari panduan praktis juga mungkin merasa pembahasannya cukup akademis. Meski begitu, nilainya besar: buku ini tidak meminta kita mencintai atau membenci kapitalisme, tetapi memahami mekanismenya sebelum bertepuk tangan atau melempar kursi.
Untuk siapa saya merekomendasikan ringkasan Capitalism, Alone ini?
Saya merekomendasikannya kepada mahasiswa ekonomi yang ingin menghubungkan angka dengan kekuasaan, profesional yang mempertanyakan janji meritokrasi, pembuat kebijakan yang memikirkan distribusi aset, serta pembaca berita internasional yang ingin memahami persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok tanpa slogan. Buku ini terutama cocok bagi siapa pun yang merasa perdebatan ekonomi terlalu sering berhenti pada pertanyaan siapa bekerja paling keras, padahal aturan, warisan, dan paspor sudah ikut menentukan garis awal.