Misbehaving: The Making of Behavioral Economics karya Richard H. Thaler mengisahkan bagaimana kebiasaan manusia yang dianggap menyimpang oleh teori ekonomi justru menjadi kunci untuk memahami uang, pasar, dan keputusan sehari-hari.
Mengapa kita tetap menonton film buruk hanya karena tiketnya mahal? Rupanya, membuang uang belum cukup; kita merasa perlu membuang dua jam lagi sebagai penghormatan. Bagi teori ekonomi standar, keputusan semacam ini sulit dibela. Bagi Richard H. Thaler, justru di situlah percakapan menarik dimulai.
Thaler, ekonom yang kemudian meraih Nobel Ekonomi pada 2017, membangun karier dengan mengumpulkan perilaku yang tidak cocok dengan model pilihan rasional. Orang menolak menjual barang yang sebenarnya tidak akan mereka beli pada harga serupa. Mereka berhemat untuk belanja kebutuhan, tetapi mendadak royal ketika menerima bonus. Ini bukan sekadar kumpulan keanehan. Polanya cukup teratur untuk diteliti.
Terbit pada 2015, Misbehaving merupakan sejarah intelektual sekaligus memoar tentang perjuangan ekonomi perilaku memperoleh tempat. Melalui kolaborasi dan perdebatan, termasuk pengaruh besar Daniel Kahneman dan Amos Tversky, Thaler menantang gambaran manusia sebagai penghitung untung-rugi yang selalu konsisten. Manusia punya perhatian terbatas, emosi, kebiasaan, dan kemampuan luar biasa untuk merasionalisasi pembelian yang tidak perlu.
Pesan utamanya bukan bahwa manusia bodoh atau pasar tidak berguna. Masalah muncul ketika model yang sengaja menyederhanakan manusia diperlakukan seolah-olah merupakan potret lengkapnya. Jika penyimpangan terjadi secara sistematis, teori perlu diperbaiki, bukan penggunanya dimarahi. Buku ini menunjukkan bagaimana gagasan tersebut mengubah penelitian keuangan, rancangan program pensiun, hingga kebijakan publik.
Berikut 3 pelajaran dari buku ini:
- Label mental pada uang bisa membuat keputusan kita tidak konsisten.
- Rasa memiliki, ketakutan kehilangan, dan tuntutan keadilan ikut menentukan nilai.
- Rancangan pilihan yang baik membantu niat berubah menjadi tindakan.
Mari kita mulai.
Pelajaran 1: Nilai uang tetap sama, tetapi pikiran kita memberinya label berbeda.
Secara ekonomi, seratus ribu rupiah tetap seratus ribu rupiah, baik berasal dari gaji, hadiah, maupun pengembalian pajak. Namun, kita sering memperlakukannya berbeda. Thaler menyebut kebiasaan ini mental accounting, atau akuntansi mental. Kita membuat pos-pos psikologis, lalu mengikuti aturan tiap pos seolah-olah uang tidak bisa berpindah fungsi.
Itulah sebabnya seseorang bisa menyimpan dana liburan sambil membayar bunga kartu kredit yang tinggi. Dana liburan terasa terlarang untuk disentuh, meskipun memakai sebagian untuk melunasi utang mungkin lebih masuk akal. Akuntansi mental tidak selalu buruk: pemisahan anggaran dapat membantu disiplin. Masalahnya muncul ketika label mengalahkan penilaian atas seluruh kondisi keuangan.
Kebiasaan serupa menjelaskan jebakan biaya hangus. Setelah membeli tiket pertunjukan, kita memaksa berangkat meski sedang sakit. Padahal, uang tiket sudah pergi, apa pun keputusan berikutnya. Pertanyaan yang relevan bukan “Bagaimana agar pembelian ini tidak sia-sia?”, melainkan “Pilihan mana yang memberi hasil terbaik mulai sekarang?” Pengeluaran masa lalu tidak otomatis menciptakan kewajiban untuk terus menderita.
Penerapannya sederhana, meski tidak mudah: sebelum memakai bonus, perlakukan uang itu seperti gaji yang susah payah diperoleh. Sebelum melanjutkan proyek gagal, tanyakan apakah Anda akan memulainya hari ini. Saya menyukai pelajaran ini karena tidak menuntut kita menjadi kalkulator. Kita hanya perlu berhenti menjadikan riwayat pembayaran sebagai penasihat utama.
Pelajaran 2: Harga bukan satu-satunya penentu nilai bagi manusia.
Menurut endowment effect, atau efek kepemilikan, barang sering terasa lebih bernilai begitu menjadi milik kita. Pemilik sebotol anggur dapat menolak menjualnya pada harga yang jauh melampaui kesediaannya membayar untuk botol serupa. Barangnya sama; posisi psikologisnya berubah. Melepas milik sendiri terasa sebagai kehilangan, sementara tidak membeli sekadar terasa sebagai kesempatan yang lewat.
Ini berkaitan dengan loss aversion: kerugian biasanya terasa lebih menyakitkan daripada kesenangan dari keuntungan setara. Akibatnya, titik acuan sangat penting. Potongan upah dan kenaikan upah yang lebih kecil daripada harapan sama-sama mengecewakan, tetapi belum tentu memicu respons serupa. Kita menilai perubahan relatif terhadap keadaan yang dianggap normal, bukan hanya jumlah akhir.
Thaler juga menunjukkan bahwa penilaian ekonomi memuat tuntutan keadilan. Kenaikan harga sekop setelah badai salju mungkin masuk akal menurut logika permintaan, tetapi pelanggan dapat menganggapnya sebagai pemanfaatan kesulitan orang lain. Sebaliknya, kenaikan harga akibat ongkos pemasok sering lebih diterima. Bagi bisnis, mengabaikan perbedaan ini berarti mengira hubungan pelanggan bisa diringkas menjadi kurva.
Pelajarannya berguna ketika menjual barang, bernegosiasi, atau menetapkan harga. Uji apakah harga yang Anda tuntut mencerminkan nilai pasar atau sekadar rasa sayang. Saat mengubah tarif, jelaskan alasannya. Namun, jangan menganggap setiap penolakan sebagai bias: pelanggan bisa memiliki informasi atau prioritas yang tidak Anda ketahui. Ekonomi perilaku paling berguna sebagai alat bertanya, bukan stempel untuk meremehkan orang.
Pelajaran 3: Keputusan yang lebih baik membutuhkan rancangan, bukan sekadar tekad.
Kita kerap menganggap kegagalan menabung sebagai kekurangan disiplin. Thaler menawarkan penjelasan yang lebih produktif: pilihan hari ini bersaing dengan kepentingan masa depan, dan hari ini membawa godaan yang lebih konkret. Salah satu anekdot terkenalnya melibatkan semangkuk kacang yang disingkirkan sebelum makan. Para tamu lega karena godaannya hilang, meskipun pilihan mereka berkurang.
Bersama Shlomo Benartzi, Thaler mengembangkan program Save More Tomorrow. Pekerja diajak berkomitmen menaikkan kontribusi pensiun ketika gaji mereka naik kelak. Rancangannya memanfaatkan kesediaan berjanji untuk masa depan sekaligus mengurangi rasa kehilangan akibat penurunan uang belanja saat ini. Kebiasaan bertahan pada pengaturan yang sudah berjalan turut membantu komitmen tersebut berlanjut.
Prinsip serupa berlaku pada pilihan bawaan. Pendaftaran otomatis untuk program pensiun, dengan hak keluar tetap tersedia, dapat menghasilkan partisipasi lebih tinggi daripada sistem yang mengharuskan pekerja mendaftar sendiri. Bukan karena semua orang mendadak memahami investasi, melainkan karena prosedur memiliki pengaruh. Formulir, urutan pilihan, dan langkah tambahan bukan dekorasi administratif; semuanya ikut membentuk hasil.
Untuk kehidupan pribadi, atur transfer tabungan otomatis setelah gajian dan buat pembelian impulsif sedikit lebih merepotkan. Untuk organisasi, sederhanakan tindakan yang bermanfaat tanpa menyembunyikan alternatif. Batas etiknya penting: kemudahan seharusnya melayani kepentingan pengguna, bukan memoles manipulasi. Rancangan perilaku bukan pengganti pendapatan layak atau produk yang baik.
Review Misbehaving: The Making of Behavioral Economics
Kekuatan buku ini terletak pada perpaduan gagasan, eksperimen, dan cerita pertarungan akademis. Thaler menjelaskan perubahan ilmu sebagai proses sosial yang penuh keberatan, kelakar, dan tarik-menarik reputasi. Pembahasannya tentang pasar keuangan juga memperlihatkan mengapa pelaku canggih tidak selalu mampu segera mengoreksi harga yang keliru. Kritiknya terhadap rasionalitas memperoleh bobot dari mekanisme, bukan sekadar daftar kesalahan manusia.
Kelemahannya, alur historis kadang berputar melalui tokoh dan perdebatan yang lebih menarik bagi peminat ekonomi daripada pembaca pencari panduan praktis. Sebagai memoar seorang pelopor, sudut pandangnya pun tidak netral sepenuhnya. Namun, buku ini berhasil menggeser pertanyaan penting: bukan mengapa manusia gagal menyerupai teori, melainkan bagaimana teori bisa lebih berguna bagi manusia.
Untuk siapa saya merekomendasikan ringkasan Misbehaving: The Making of Behavioral Economics ini?
Saya merekomendasikannya kepada pekerja yang sulit menabung meski memahami manfaatnya, pengelola bisnis yang ingin membaca respons pelanggan, serta mahasiswa ekonomi yang merasa manusia pada buku teks terlalu rapi. Perancang kebijakan dan produk juga akan memperoleh kerangka untuk menilai pengaruh prosedur terhadap keputusan. Buku ini terutama cocok bagi pembaca yang ingin memahami asal-usul ekonomi perilaku, bukan sekadar mengoleksi kiat cepat mengakali kebiasaan.