Buya Hamka, merupakan ketua MUI pertama kali. Dan, saya pertama kali mengenal beliau dari novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang telah membentuk saya menjadi pribadi dewasa “yang menolak menjadi Loser karena cinta”. Nama Hamka sendiri diambil dari akronim nama lengkap beliau Haji Abdul Malik Karim Amrullah.

Banyak hal baik mengenai Buya Hamka hingga menjadi film tersendiri yang diperankan Vino G. Bastian. Salah satu hal yang membuat saya memberikan penghormatan setinggih-tinggihnya terhadap beliau adalah saat beliau bersedia menyalatkan jenazah Soekarno sebelum dikebumikan atas permintaan Soekarno walaupun Buya Hamka sempat dipenjara selama dua tahun empat bulan atas perintah Soekarno, tanpa pengadilan yang semestinya karena beliau dituduh berencana menggulingkan pemerintahan bahkan berencana membunuh Soekarno. Dan banyak kisah-kisah Hamka yang tak kalah menyentuhnya, dan buat kalian yang pengen baca, bisa baca di memoar tentang Hamka berjudul Ayah… Kisah Buya Hamka (2013) yang ditulis oleh  Irfan Hamka, anak Buya Hamka. Tapi kita tidak akan membahas buku itu, kita akan membahas novel-novel beliau yang tidak terlalu berlebihan jika dikatakan mempengaruhi sastra Indonesia hingga saat ini

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Novel ini bercerita tentang kisah cinta antara Zainuddin dan Hayati, yang berbeda asal-usul dan latar belakang. Zainuddin adalah anak campuran Minang dan Makassar, yang dianggap rendah oleh masyarakat Minang. Hayati adalah gadis cantik dan cerdas, yang dijodohkan dengan Aziz, seorang pemuda kaya dan terpandang. Meskipun mereka saling mencintai, Zainuddin dan Hayati tidak bisa bersatu karena adat Minang yang menghalangi. Zainuddin pun pergi ke Jawa dan menjadi pengarang terkenal dan dimana memberikan rasa penyesalan ke diri Hayati. Hubungannya dengan Kapal Van Der Wijck? Penasaran? Silakan baca sendiri. Jika kamu sudah pernah nonton filmnya, beneran gak ada ruginya baca novel ini 🙂

Di Bawah Lindungan Ka’bah

“Di Bawah Lindungan Ka’bah” adalah sebuah novel yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan dan mengajarkan tentang pentingnya menjaga akar budaya dan spiritualitas dalam hidup kita. Novel ini sangat cocok untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin menggali makna kehidupan dan menemukan inspirasi dari kearifan lokal Indonesia.

Novel ini mengisahkan kisah hidup seorang pemuda bernama Hamid dan perjuangannya dalam mencari makna hidup dan cinta sejati di tengah-tengah perjalanan hidupnya. Dikisahkan bahwa Hamid tumbuh dewasa di kampung halamannya di Padang Panjang, Sumatera Barat, di bawah pengawasan kakeknya yang keras dan disiplin.

Dalam novel ini, Hamka menghadirkan gambaran tentang kehidupan masyarakat Minangkabau pada awal abad ke-20, serta tradisi dan budaya yang berakar kuat dalam kehidupan mereka. Kisah cinta antara Hamid dan Zainab juga menjadi fokus utama dalam novel ini, di mana mereka harus menghadapi berbagai rintangan dan ujian demi mempertahankan cinta mereka.

Merantau Ke Deli

Novel ini mengisahkan tentang perjalanan seorang pemuda Minang bernama Saleh, yang merantau ke kota Medan pada masa kolonial Belanda.

Dalam perjalanannya, Saleh bertemu dengan berbagai macam orang dari latar belakang yang berbeda, seperti pekerja perkebunan, pedagang, dan juga sesama orang Minang. Salah satu orang yang sangat berpengaruh dalam hidup Saleh adalah seorang ulama bernama Syekh Abdul Qadir, yang memberikan arahan dan nasihat kepada Saleh untuk menjalani hidup dengan jalan yang benar.

Novel ini menarik untuk dibaca karena memberikan gambaran yang sangat hidup tentang kehidupan masyarakat di Sumatra Utara pada masa kolonial Belanda. Selain itu, kisah perjalanan Saleh yang mencari jati diri dan hakekat kehidupan juga menjadi cerminan bagi kita sebagai pembaca untuk merenungkan arti kehidupan dan tujuan hidup yang sebenarnya.