Novel thriller klasik menurut saya sangat unik, karena bisa membawa imajinasi kita di tahun-tahun tersebut. Selain itu dari sisi cerita, novel thriller klasik memiliki ciri khas

  1. Gaya Penulisan: Gaya penulisan pada novel thriller klasik biasanya lebih formal dan kaku dibandingkan dengan novel thriller yang terbit di tahun-tahun berikutnya. Bahasa yang digunakan juga lebih klasik dan formal.
  2. Keterlibatan Teknologi: Keterlibatan teknologi pada novel thriller klasik sangat minim atau bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini berbeda dengan novel thriller yang terbit di tahun-tahun berikutnya yang biasanya banyak memasukkan teknologi sebagai salah satu elemen penting cerita.
  3. Karakter Utama: Karakter utama pada novel thriller klasik biasanya merupakan seorang detektif atau penyelidik swasta yang memiliki kemampuan dalam memecahkan kasus-kasus yang sulit. Karakter tersebut seringkali digambarkan sebagai seseorang yang berwibawa dan cerdas.
  4. Tema: Tema yang diangkat pada novel thriller klasik cenderung lebih sederhana dan fokus pada kisah detektif yang mengungkap kasus-kasus kejahatan seperti pembunuhan, pencurian, dan sejenisnya.
  5. Alur Cerita: Alur cerita pada novel thriller klasik cenderung lebih sederhana dan fokus pada proses penyelidikan serta pembongkaran misteri yang terjadi. Sedangkan pada novel thriller yang terbit di tahun-tahun berikutnya, alur cerita cenderung lebih kompleks dan penuh dengan kejutan serta plot twist yang tidak terduga.

So, here we go. 5 novel thriller klasik rekomendasi saya

“And Then There Were None” (1939) oleh Agatha Christie

“Ten little Indian boys went out to dine; One choked his little self and then there were nine.”

ini adalah salah satu novel terbaik yang pernah saya baca. Kisahnya sangat menarik dan membawa saya dalam perjalanan yang menegangkan.

Novel ini menceritakan tentang sepuluh orang yang diundang untuk tinggal di sebuah pulau kecil yang terpencil di lepas pantai Devon, Inggris. Semua orang yang diundang tidak saling mengenal satu sama lain dan diundang oleh seseorang yang tidak dikenal melalui surat.

Namun, ketika mereka tiba di pulau tersebut, mereka menyadari bahwa tidak ada satu pun orang lain di pulau itu kecuali mereka sendiri dan tuan rumah yang tidak dikenal. Mereka mulai khawatir dan ketakutan saat satu per satu dari mereka mulai meninggal dalam keadaan yang mengerikan. Ketakutan dan ketidakpastian meningkat saat mereka menyadari bahwa pembunuh misterius yang mengancam hidup mereka bersembunyi di antara mereka sendiri.

Saya sangat terkesan dengan plot cerita yang dibangun dengan sangat rapi oleh Agatha Christie dan sangat mengagumi kemampuan beliau dalam menggambarkan karakter masing-masing tokoh yang sangat kuat dan kompleks. Saya juga terkesan dengan alur cerita yang begitu halus dan mendebarkan sepanjang novel.

Novel ini juga mengajarkan pentingnya kesetiaan dan kejujuran. Setiap karakter dalam buku ini memiliki rahasia yang disembunyikan dari yang lain dan ketika rahasia itu terungkap, karakter mereka akan terungkap dengan jelas.

Quote paling populer dalam novel ini adalah “Ten little Indian boys went out to dine; One choked his little self and then there were nine. Nine little Indian boys sat up very late; One overslept himself and then there were eight.” Kutipan ini menjadi populer karena muncul dalam bagian awal novel dan merupakan petunjuk penting tentang kisah yang akan terungkap.

Secara keseluruhan, “And Then There Were None” adalah novel yang sangat menarik dan patut dibaca bagi siapa saja yang menyukai cerita misteri dan thriller. Jika kamu suka dengan genre ini, maka kamu harus membaca novel ini karena pasti akan membawa kamu dalam perjalanan yang menegangkan dan penuh misteri.

“The Maltese Falcon” (1930) oleh Dashiell Hammett

“When a man’s partner is killed, he’s supposed to do something about it. It doesn’t make any difference what you thought of him. He was your partner and you’re supposed to do something about it.”

Novel ini berpusat pada Sam Spade, seorang detektif swasta yang dikenal dengan kemampuan analitis dan ketangguhannya dalam menjalankan tugasnya.

Cerita dimulai ketika seorang wanita misterius, Brigid O’Shaughnessy, meminta Spade untuk membantunya menemukan sekelompok orang yang mengancam untuk membunuhnya. Namun, ketika orang-orang tersebut mulai muncul mati, Spade menyadari bahwa ada lebih banyak hal yang terjadi dibalik permintaan Brigid daripada yang terlihat.

“The Maltese Falcon” penuh dengan intrik dan teka-teki yang menghibur, dengan banyak karakter yang menarik dan penuh kejutan. Dashiell Hammett telah berhasil menempatkan pembaca dalam suasana misteri dan tidak dapat memprediksi jalan ceritanya. Saya sangat terkesan dengan cara Hammett menggambarkan karakter Sam Spade dan kepribadian kompleksnya yang menarik.

Salah satu kutipan terkenal dari novel ini adalah, “Ketika wanita telah mencuri hatimu, maka dia juga mencuri kemampuanmu untuk berpikir secara rasional.” Kutipan ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik wanita dan sejauh mana keputusan dan tindakan yang kita buat dapat dipengaruhi oleh perasaan kita.

“The Maltese Falcon” adalah sebuah karya klasik yang harus dibaca oleh penggemar novel detektif dan misteri. Hammett berhasil menangkap esensi dari genre tersebut dengan membuat karya yang penuh intrik dan menarik sekaligus menggambarkan seorang detektif yang kompleks dan berani. Saya sangat merekomendasikan novel ini kepada siapa saja yang mencari cerita detektifikasi yang menarik dan penuh teka-teki.

“Rebecca” (1938) oleh Daphne du Maurier

“Last night I dreamt I went to Manderley again.”

Buku ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Rebecca menawarkan kombinasi yang menarik dari roman, thriller psikologis, misteri dan sedikit elemen supernatural.

Kisah dimulai dengan narator, seorang wanita muda tanpa nama, yang bekerja sebagai pengasuh di Manderley, sebuah rumah besar di dekat pantai Inggris. Dia jatuh cinta dengan Max de Winter, pemilik Manderley, dan kemudian menikahinya. Tapi bayangan istri Max yang pertama, Rebecca, terus menghantuinya. Ketika mereka pindah ke Manderley, sang pengasuh menghadapi kesulitan karena setiap sudut rumah teringat akan keberadaan Rebecca. Sementara itu, Max merasa semakin jauh dari sang istri yang baru. Hingga suatu hari, sebuah rahasia terungkap yang melibatkan Rebecca dan membuat Max dan sang pengasuh harus berjuang untuk mempertahankan hidup mereka.

Apa yang membuat buku ini sangat menarik adalah cara penulis membangun ketegangan dan teka-teki yang terus meningkat, serta gaya bahasa yang memikat. Deskripsi-dua du Maurier tentang keindahan Manderley sangat hidup dan memikat. Plot yang penuh teka-teki dan kejutan, dengan karakter-karakter yang kompleks dan berlapis-lapis, membuat saya selalu ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Salah satu kutipan paling terkenal dari novel ini adalah “Last night I dreamt I went to Manderley again”, yang menggambarkan betapa kuatnya pengaruh rumah Manderley pada sang narator dan betapa sulitnya baginya untuk melupakan masa lalunya. Kutipan ini menjadi sangat terkenal karena begitu ikonik dan mendalam.

Secara keseluruhan, Rebecca adalah novel yang sangat menarik dan layak dibaca. Bagi mereka yang suka membaca novel klasik yang menegangkan, Rebecca adalah pilihan yang sempurna. Novel ini telah diadaptasi menjadi beberapa film dan drama panggung, tetapi bagi saya, tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman membaca novelnya sendiri.

“The Big Sleep” (1939) oleh Raymond Chandler

“You were dead, you were sleeping the big sleep, you were not bothered by things like that, oil and water were the same as wind and air to you. You just slept the big sleep, not caring about the nastiness of how you died or where you fell.”

Saat membaca novel detektif, saya selalu mencari tahu apakah buku tersebut dapat menarik perhatian saya dan membuat saya berpikir keras untuk memecahkan misteri yang ada. Dan “The Big Sleep” oleh Raymond Chandler adalah salah satu novel detektif klasik yang memiliki semua elemen yang saya cari.

Novel ini menceritakan tentang kasus yang dihadapi oleh detektif swasta bernama Philip Marlowe. Marlowe diberi tugas untuk menyelesaikan masalah dengan putri bos kaya, Vivian. Namun, kasus ini tidak semudah yang terlihat karena Marlowe terus menemukan dirinya terjebak dalam rangkaian intrik dan bahaya yang melibatkan gengster dan wanita cantik.

Tidak hanya ceritanya yang menarik, tetapi juga gaya bahasa Chandler yang digunakan untuk menulis novel ini. Gaya bahasanya yang sederhana dan lugas, namun tajam dan menggugah membuat saya merasa seperti sedang membaca puisi yang tersembunyi di dalam novel detektif.

Saya suka bagaimana Chandler menggambarkan suasana kota Los Angeles yang gelap dan penuh kejahatan, dan karakteristik yang diberikan pada Marlowe sebagai tokoh protagonis. Marlowe digambarkan sebagai sosok yang berwibawa, tetapi tetap memiliki sisi kemanusiaan yang membuatnya lebih mudah didekati dan lebih bisa dihubungkan dengan pembaca.

Quote paling terkenal dari novel ini adalah “It’s okay with me”, yang diucapkan oleh Marlowe saat Vivian meminta maaf atas perbuatannya. Kutipan ini menunjukkan bagaimana Marlowe mempertahankan integritasnya sebagai seorang detektif swasta dan menunjukkan kesetiaannya pada prinsip-prinsip moralnya.

Secara keseluruhan, “The Big Sleep” adalah novel detektif klasik yang wajib dibaca bagi pecinta genre ini. Cerita yang menarik, karakter yang kompleks, dan gaya bahasa yang indah membuat buku ini benar-benar layak dibaca dan dihargai selama bertahun-tahun.

“The Thirty-Nine Steps” (1915) oleh John Buchan

“I returned from the City about three o’clock on that May afternoon pretty well disgusted with life.”

Novel ini mengikuti petualangan Richard Hannay, seorang pria Skotlandia yang terlibat dalam sebuah konspirasi yang mengancam keamanan negaranya.

Kisah dimulai ketika Hannay bertemu dengan seorang pria bernama Scudder, yang memberitahunya tentang rencana untuk membunuh seorang agen rahasia dan keinginannya untuk mengungkap konspirasi ini ke pihak berwenang. Namun, ketika Scudder dibunuh, Hannay menjadi tersangka utama dan dikejar-kejar oleh polisi dan pengkhianat.

Novel ini sangat menarik karena membawa pembaca dalam petualangan yang sangat seru dan menegangkan. Meskipun ditulis lebih dari seratus tahun yang lalu, cerita ini masih menarik untuk dibaca saat ini. Saya terkesan dengan kecerdikan karakter utama dan bagaimana ia melawan para musuhnya dalam mengungkap konspirasi tersebut.

Selain cerita yang menarik, bahasa yang digunakan dalam novel ini sangat jelas dan mudah dipahami. Dengan kata lain, buku ini mudah dinikmati oleh pembaca dari berbagai latar belakang dan usia.

Satu kutipan yang sangat terkenal dari novel ini adalah “Pada awalnya saya hanya mencari petualangan kecil … tapi sekarang saya telah terjerat dalam sebuah konspirasi yang sangat besar.” Kutipan ini menunjukkan betapa kompleksnya petualangan Richard Hannay dan bagaimana ia terjerat dalam masalah yang jauh lebih besar dari yang bisa ia duga.

Secara keseluruhan, “The Thirty-Nine Steps” adalah novel thriller klasik yang sangat menarik dan patut dibaca bagi penggemar genre ini. Saya merekomendasikan buku ini kepada siapa saja yang ingin merasakan petualangan yang mendebarkan dan tak terduga.