Banyak orang, beranggapan bahwa tujuan hidup adalah menjadi bahagia. Oleh sebab itu, hampir semua dari kita, berusaha sekuat tenaga untuk bahagia, atau (at least) terlihat bahagia. Itu sebabnya, dalam mencari kebahagiaan, tidak jarang kita melakukan hal yang kita pikir bisa membawa kebahagiaan, misal beli barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan, hangout dengan teman yang dimana kita tau bahwa akan buang-buang waktu, pergi ke tempat keramaian yang ujung-ujungnya disana merasa “sepi” hingga bekerja keras hanya untuk mendapatkan “legitimasi” dari orang yang sebenarnya tidak kamu sukai. Dan at the end of the day, kita berbaring kelelahan dan berfikir “Sampai kapan kita harus mengejar kebahagiaan?”

Jadi mengapa kita berusaha bahagia yang pada akhirnya tidak memenuhi rasa bahagia itu?

Dan saya mulai menyadari sesuatu “what I did is to chase something random that I believe makes me happy”. Dan apakah quote Aristotle sebenarnya tidak relevan

Happiness is the meaning and the purpose of life, the whole aim and end of human existence

Aristotle

Dan saya mulai berfikir, bagaimana jika kita melihat quote itu dengan angle yang berbeda. Bagaimana jika Kebahagiaan bukanlah hasil akhir, sehingga tentu tidak mungkin bisa kita capai. Bagaimana jika kebahagiaan hanyalah hasil dari sebuah usefulness. Ok, let’s start with a hypothesis

Banyak hal yang kita lakukan di dalam hidup ini adalah sebuah aktifitas, mulai dari kerja, pergi berlibur, belanja, pergi kuliner, nongkrong bareng temen, beli mobil, dll. Pertanyaannya, apakah kita selalu happy dalam melakukan aktifitas itu? Tentu tidak selalu. Dan tidak jarang, kegiatan-kegiatan itu hanya terasa sebagai rutinitas belaka.

Jadi bilamana kita akan merasa happy? Kita akan merasa happy jika kita merasa apa yang kita lakukan berguna. Saya beri suatu contoh yang “kekinian”, saat kita pergi ke suatu tempat wisata yang sangat indah, apakah kita pasti bahagia? Belum tentu, tapi besar kemungkinan kita bahagia saat kita memberikan rekomendasi tempat itu ke teman kita, dan teman itu berterima kasih.

Sejujurnya, cukup sulit bagi saya untuk menemukan korelasi antara usefulness dan happiness, tetapi quote Ralph Waldo Emerson ini membantu saya lebih memahaminya

The purpose of life is not to be happy. It is to be useful, to be honorable, to be compassionate, to have it make some difference that you have lived and lived well.

Emerson

Pertanyaannya, bagaimana agar menjadi useful? Pertama-tama menjadi useful bukan berarti harus merubah dunia menjadi lebih baik, cukup lakukan yang terbaik dan memberikan value kepada orang lain, sebagai contoh :

  • Nganterin Nyokap Belanja
  • Ngajak Ortu Umroh
  • Bikin Tulisan tentang perjalanan kamu, kasih tips & trik yang mempermudah orang
  • Bantu kolega atau bos yang dimana itu bukan tanggung jawab kamu

Dan hal-hal sederhana lainnya. Dan saat kita melakukan hal-hal kecil itu, it adds up to a life that is well lived. A life that mattered. Dan hal itulah yang menjadi kita bahagia

Dan pada akhirnya, menjadi berguna adalah sebuah mindset. Sepertinya mindset lainnya, itu adalah pilihan hidup. Dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya 🙂
Wait, bagaimana jika mindset tersebut (menjadi berguna) malah kita dimanfaatkan orang lain, ada beberapa hal (1) “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni.) (2) Orang yang sering merasa dirinya dipergunakan orang lain yang pernah saya temui, mostly adalah orang yang cenderung memikirkan dirinya sendiri. Jadi saat sedikit saja dipergunakan, orang tersebut sudah “perhitungan” (3) Kita pasti belajar, saat kita merasa dipergunakan ke-2 kalinya, tentu saja kita akan menghindarinya.

Jadi Bagaimana? Konsisten saja memberikan nilai tambah kepada orang lain, Don’t take it too seriously. Don’t overthink it. Just DO something that’s useful. Dan rasa bahagia itu akan datang tanpa harus “dicari”.