Zenius PHK 200 karyawannya, Netflix diketahui telah memutus hubungan kerja sekitar 150 pegawai, dan badai ini kabarnya sudah masuk ke India. Sebenarnya apa penyebabnya ini bisa terjadi? Inflasi. Jadi kurang lebih runutnya seperti ini : Inflasi amerika naik 8%, tertinggi dalam 40 tahun terakhir –> FED (Bank Sentral AS) terapkan menaikan interest rate, agar orang-orang pada saving, bukan spending. Hal ini mempengaruhi spending orang ke aset-aset berisiko, sehingga gak hanya startup, crypto juga ikutan lesu –> Dana global jadi mengering x valuasi tech start up anjlok parah –> Dana VC macet. Start up di seluruh dunia, termasuk di tanah air, yang masih burning Money dan tergantung dari dana Investor jadi kelabakan dan terancam kolaps.

Kebijakan uang ketat FEB (Bank Sentral Amerika) ini benar-benar fatal bagi tech start up.Selama 2020 – 2021, FED terlalu murah hati. Suku bunga nol. Gerojok uang mega triliunan. Harga-harga saham tech companies jadi booming. Sekarang FED narik pedal rem. Sebab kebijakan tersebut menyebabkan valuasi tech companies anjlok dan bikin harga-harga saham tech jatuh. Saat valuasi jeblok, maka tech start up tak lagi menarik bagi para investor dan VC. Kebijakan uang ketat FED ini dampaknya ke seluruh dunia. Dana-Dana VC juga pasti akan menyusut. Imbasnya jg pasti akan ke start up di tanah air. Sebab dana VC kita juga kebanyakan dari Amerika.

Secara umum, tech start up di seluruh dunia memang sedang goyah. Saham grab turun -82% dalam 6 bulan terakhir, Netflix -71%, Facebook -43%, dan kalian bisa cek saham tech company lainnya seperti Zoom, Spotify, dkk. Sekali lagi, ini dialami oleh hampir semua tech companies di Amerika. Hingga mereka menyebutnya Crash. Kondisi ini ternyata berdampak juga ke Indonesia.

Sebagai contoh, ex-perusahaan saya, baru saja me-LayOff sekitar xx% pegawainya. Di perusahaan lain, kabarnya kondisi keuangan Grab juga mungkin makin kritis, termasuk Grab Indonesia. Karena dana global kian menipis, maka suntikan dana VC tak ada lagi. Bisa ada PHK massal di berbagai start up di tanah air.

Softbank sebagai VC kelas kakap, menyatakan rugi Rp 378 triliun gara-gara tech crash 2022 ini. Mereka akan makin hati-hati dalam menyuntikkan dana ke start up. Kalau dana VC makin mampet, apakah para startup di tanah air bisa survive? Selama ini, sayangnya beberapa startup Indonesia masih dalam posisi burning cash. Selama ini aman-aman saja ya karena dana VC terus mengalir lancar.

Jadi, para StartUp di tanah air, road to profitability harus segera hadir. Mereka tak bisa lagi andalkan dana VC yang kian menipis. Kalau dana investor habis, mungkin akan ada banyak PHK massal terjadi pada beragam startup di tanah air. Di beberapa diskusi yang saya ikutin, dalam 12 bulan ke depan, mungkin akan ada beberapa start up di tanah air yg berguguran. Karena saat dana investor mengering, adu bakar uang tak lagi bisa dilanjutkan. Bahan bakar utamanya sudah habis. Lalu dari mana StartUp tanpa profitability itu bisa bertahan kalau dana habis?