Pada momen lebaran selain mudik ada satu hal lain yang menyita perhatian saya yaitu pertanyaan usil yang akan keluar dari kerabat dan keluarga. Sialnya, pertanyaan itu seperti tidak punya ujung, dari kapan lulus, kapan nikah, kerja dimana, kapan punya anak, kalau udah tua pertanyaan nya berevolusi menjadi, kapan mantu, kapan punya cucu, mungkin ending dari pertanyaan itu adalah KAPAN MATI (kidding). Anyway, buat saya, ini kurang begitu relevan, kemungkinannya ada 2 (1) Karena lingkungan kerabat dan keluarga saya punya positive vibe, atau (2) saya cuek alias bodo amat hahahaha. Jujur, saya cukup penasaran dengan fenomena ini yang dimana bisa jadi orang yang memberikan pertanyaan itu tidak merasa bawah pertanyaan itu cukup offensive untuk beberapa orang. Jadilah dalam masa kegabutan liburan kemarin, saya sedikit melakukan observasi, ada beberapa penyebab kenapa itu bisa terjadi. Dan, untuk penutupnya nanti saya akan share rekomendasi pertanyaan yang sebaiknya diberikan kepada orang yang jarang bertemu

Open Minded

Yes, culprit utama adalah tidak berfikiran open-minded. Open-minded disini adalah kemampuan kita menerima perbedaan yang bahkan jauh dari definisi ideal kita, agree to disagree. Salah satu penyebab tidak open-minded nya seseorang adalah tidak tebiasa dengan lingkungan yang heterogen yang dimana perbedaan adalah hal yang biasa, apalagi kalau orang tersebut merupakan mayoritas di lingkungannya dari segala aspek, kelar deh.

Di social media ini sering sekali saya temuin orang berbeda pendapat padahal mereka memilika latar belakang yang berbeda, semisal debat lebih baik mana Ibu di Rumah vs Ibu Bekerja, atau perdebatan soal cara mengasuh anak. Bahkan, saya sampek geleng-geleng kepala saat ada perdebatan balita harus dibiasakan makan nasi, ok saya bukan expert saya, tapi mohon maaf maimunah, yang tidak merekomendasikan balita makan nasi itu dokter yang belajar belasan hingga puluhan tahun. Tapi again, kita bisa kok agree to disagree, jadi kesimpulan sotoy saya, orang-orang yang bertanya nyinyir atas kehidupan orang lain, kayak kapan nikah dkk, maennya kurang jauh aja, alhasil definisi kehidupan ideal ya hanya sebatas pengetahuannya dia saja. Kurang lebih flow pemikiran nya dia gini: Si X kok gak sesuai dengan standart ideal hidup baik versi saya –> Tanya karena penasaran –> Menasehatin

Tidak Terbiasa dengan Pujian

Kita sering sekali mengkritik society kita bahwa pelit mengapresiasi, tapi coba dibalik apakah kita telah memberikan respon yang layak saat diapresiasi?

Setiap aksi butuh reaksi, kalau gak ada reaksi, orang juga males ber”aksi”. Imagine, apa respon seseorang di society kita saat dipuji? Yang saya temuin adalah menolak pujian itu seperti : “ah gak ah jeng”, hal inilah yang menurut saya membuat orang malas memberikan pujian kepada seseorang, karena tidak ada respon postif. Bayangin aja, kamu ngasih uang ke seseorang terus orang tersebut reaksi nya menolak tapi nerima uang itu? (ada kemungkinan) rada kecewa. Jadi harusnya gimana? Cukup ucapkan terima kasih, sudah cukup memberikan apresiasi kepada orang yang memberikan apresiasi.

Jadi ya, budaya kita gak enakan ini yang menjadi bumerang terhadap kesehatan society kita. Bahkan di beberapa kasus, orang lebih gak enakan saat ngasih pujian daripada ngasih kritikan. Familiar?

Sering terjadi kepada wanita

Nah problem statement ini menarik, observasi saya, mostly terjadi kepada kaum wanita daripada pria. Kenapa? No Idea. Menurut hasil penelitian di tahun 2014 menunjukan kalau ada 5 juta tweet negatif tentang kecantikan dan body image. 1 dari 5 tweet itu dibuat oleh cewek untuk cewek lainnya. Dari artikel yang pernah saya baca mengatakan bahwa cewek memang selalu lebih kompetitif atau merasa tersaingin oleh cewek juga. Di jurnal “Do human females use indirect aggression as an intrasexual competition strategy?” mengungkapkan kalau wanita cenderung suka menyerang wanita lainnya. Serangan ini berbentuk self promotion (promosi diri) di mana di akan membuat dirinya terlihat lebih menarik dan derogation of rivals (penghinaan terhadap musuh), alias jadi menghina atau menjatuhkan wanita lain dengan kasar. Bisa jadi seseorang membuat pertanyaan yang dia sudah tahu jawabannya kayak “kapan nikah?” untuk melegitimasi diri bahwa dia lebih baik dari orang tersebut

Alternatif pertanyaan

Dari tadi kita membicarakan yang gak ok nya, terus yang ok bagaimana? sebenarnya saat bertamu banyak topik pembicaraan lain seperti, (1) Rumahnya bagus ya, nyaman banget, ini yang design siapa? (2) Kalau di ruang tamu ada foto lagi jalan-jalan, maka bisa bahas itu (3) ataupun prestasi si tuan rumah. Untuk beberapa kasus, tidak jarang saya menyempatkan 5-10 menit untuk “kepo-in” tuan rumah, untuk bahan pembicaraan yang menarik.

Bertemu kerabat dekat bisa jadi setahun sekali, bikin itu menjadi pengalaman indah, bukan sebaliknya. Pulang membawa rasa kesal yang mungkin akan di-maafkan setahun kemudian saat lebaran tahun depan