Perekonomian dunia memasuki era baru, jika dulu mesin dipandang sebagai alat produktivitas bagi pekerja, kini mesin telah menjelma menjadi pekerja. Ini merupakan menjadi tantangan tersendiri sebagai tenaga kerja, apakah mesin akan menggantikan tugas pekerja? Di buku ini, Ford percaya bahwa hal itu akan terjadi

The Technology Threat to White-Collar Work

Kita sudah sering mendengar teori bahwa teknologi lambat laun akan menggantikan fungsi buruh pekerja yang dimana lebih memberikan keuntungan dari sisi efisiensi dan efektitas. Akan tetapi masih menjadi perdebatan, apakah teknologi mampu menggantikan White-Collar Worker. White Collar worker adalah pekerja kantoran yang berhubungan dengan pekerjaan administratif, seperti, sekretaris, akuntan, analisis, bahkan seorang software developer.

Di buku ini, Ford menjelaskan bahwa teknologi saat ini akan menjadi ancaman tersendiri bagi white collar worker, dan inilah faktor tersebut

  1. Big Data, Algorithms and Machine Learning mampu melakukan otomasi pekerjaan rutin yang dilakukan white collar, dan Machine Learning mampu melakukan prediksi yang dimana hal ini bisa menggantikan fungsi pekerja dalam memberikan keputusan atau penilaian
  2. Cloud Computing mampu mengurangi penggunaan server fisik yang akan berdampak pengurangan pekerja IT di masa yang akan datang

Tidak hanya white-collar workers yang akan terancam dengan teknologi, pekerjaan lain yang dianggap sangat tidak mungkin digantikan teknologi, seperti di bidang pendidikan dan kesehatan. Nyatahnya, ke dua bidang itu tidak luput dari distrupsi oleh teknologi

Sistem penandaan algoritma, deteksi plagiarisme, pengenalan wajah untuk ujian, dan kursus online seperti ruang guru dkk merupakan contoh ancaman bagi pekerjaan-pekerjaan di universitas. Dan bukan tidak mungkin fungsi dosen lambat laun digantikan oleh AI.

Begitu juga di bidang kesehatan, kecerdasan buatan akan diterapkan pada obat-obatan, dan robotisasi. Dan ini, pada beberapa kasus sudah diterapkan untuk perawatan lansia dan apotek. Pada akhirnya, teknologi akan dipilih karena mampu mengurangi tingkat kesalahan medis dan melawan beban biaya karena mahalnya tenaga kerja.

Six Economic Reasons Why This Time Is Different

Sejak adanya revolusi industri, banyak yang menyoroti kekhawatiran tentang dampak teknologi pada pekerjaan. Namun terlepas dari semua ketakutan manusia kehilangan pekerjaan, manusia telah menyesuaikan waktu dan waktu lagi, dan pekerjaan baru selalu muncul untuk meng-akomodir kebutuhan manusia. Namun, kali ini, Ford merasa bahwa saat ini sedikit berbeda, manusia tidak bisa lagi beradaptasi, dan mengakomodir kebutuhan manusia dengan menciptakan pekerjaan baru, terdapat 6 faktor utama:

  1. Stagnant wages : Saat produktivitas meningkat tajam di AS, upah riil mengalami stagnasi sejak 1980-an. Ini menunjukkan bahwa hasil inovasi dinikmati oleh investor dan pemilik, bukan pekerja.
  2. Labour declining as a proportion of national income : Kebijaksanaan ekonomi konvensional (hukum Bowley) menunjukkan bahwa persentase pendapatan nasional terhadap tenaga kerja dan modal harus konstan dari waktu ke waktu. Namun pada kenyataannya, perkembangan jumlah tenaga kerja kalah cepat dengan peningkatan pendapatan nasional, sementara keuntungan perusahaan meningkat pesat.
  3. Diminishing job creation and growing long-term unemployment : perkembangan jumlah lapangan kerja melambat dalam setiap dekade terakhir di AS,
  4. Rising inequality: orang-orang kaya di AS yang jumlahnya sekitar 1% sangat mempengaruhi meningkatnya kenaikan pendapatan negara, dengan kata lain orang-orang kaya tersebut semakin kaya
  5. Underemployment for graduates : Tingkat sarjana yang menganggur meningkat
  6. Polarisation and part-time jobs

Ford menyadari bahwa teknologi tidak dapat menjadi satu-satunya pendorong tren ini, tetapi teknologi adalah adalah faktor utama. Globalisasi, finansialisasi, dan politik adalah faktor pendukung terjadinya kondisi ini.

Why New Jobs Won’t Offset

Adanya teknologi baru tidak serta merta menghadirkan peluang kerja, kasusnya cukup berbeda denga industri motor yang menggantikan produsen kereta kuda.

Alasan utamanya adalah bahwa industri yang baru ini akan memanfaatkan otomatisasi dan AI yang dimana tidak membutuhkan tenaga padat karya. Sementara Ford menyadari bahwa beberapa pekerjaan akan tetap sebagai kolaborasi manusia-mesin (misalnya, memasukkan parameter tertentu ke algoritma), Namun, ia yakin jumlahnya tidak sebanyak yang diprediksi oleh para ekonom.

Para ekonom biasanya menolak gagasan ini karena teori “keunggulan komparatif”. Tapi ini tidak sepenuhnya benar, karena kecerdasan komputer mampu mengkloning dirinya sendiri dan berada di dua tempat sekaligus. Sebanarnya, yang membedakan manusia dan mesin adalah “kemampuan kognitif”. Namun, pada kenyataannya, saat ini algoritma dan teknologi lambat laun dapat menggantikan manusia dalam menjalankan fungsi itu

Untuk menjelaskan lebih mendetil, Ford mencoba mengilustrasikannya dengan melihat dua industri pencetakan 3D dan autonomous cars yang sedang berkembang saat ini. Dan hasilnya, 2 industri baru tersebut, cenderung lebih mengurangi jenis pekerjaan daripada menciptakan pekerjaan baru.

The Consumption Paradox and Guaranteed Minimum Incomes

Perhatian utama Ford adalah teknologi dapat memperlebar ketimpangan pendapatan yang akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain, jika orang banyak yang mengganggur karena adanya teknologi, maka daya beli pasti akan menurun, dan menciptakan kondisi yang paradoks. Inovasi yang menyebabkan pengangguran itu secara tidak langsung akan menghambat pendanaan untuk penelitian dan inovasi. Padahal, seharusnya semakin banyak-nya inovasi, maka pendanaan ke Inovasi semakin banyak.

Ford percaya bahwa solusi jangka panjang yang paling praktis adalah dengan jaminan pendapatan minimum atau kita sebutnya UMR. Regulasi ini dapat menghindarkan pekerja mendapatkan gaji yang tidak layak, dan memberikan apresiasi yang lebih tinggi kepada mereka yang memiliki pendidikan lebih baik. Kesimpulannya, Inovasi tanpa regulasi yang tepat untuk melindungi para pekerja akan menyebabkan efek domino yang pada akhirnya bisa merugikan Inovasi itu sendiri