Buku ini sangat menarik buat saya, dan buku inilah yang mengajari saya secara tersirat “Not About You”. Manusia memiliki kecenderungan berfikir bahwa dunia berputar di sekitar dirinya sendiri, sehingga saat ego kita direndahkan, kita beranggapan bahwa semua-nya melihat kita dan membicarakan kita, padahal gak, itu hanyalah fantasi kita sendiri. Tidak jarang, saya membaca sebuah status di socmed yang terkesan bahwa dia sedang di-omong-in orang, come on, how we are, paling yang ngomongin 1-2 orang aja (peace), dan sialnya itu berhasil bikin kita senewen. Dan sialnya lagi, hal itu juga yang membuat kita tidak jarang menghalangi kita melakukan hal yang kita inginkan (baca: omongan orang).

Dengan mampu mengendalikan ego, itu dapat membantu kita dalam mengendalikan diri di saat kita senang, sedih maupun hancur sekalipun, karena kita tidak akan terlalu stress saat menghadapi kegagalan, terkadang saat gagal itu yang bikin stress bukan karena besarnya masalah tapi apa kata orang. Atau saat berhasil, jika kita tidak bisa mengendalikan ego kita, kita akan terlihat seperti seorang yang sombong layaknya seorang diva (asekk). Hal lain yang saya pelajari dari buku ini :

Your worst enemy lives in you.

Wherever you are, whatever you’re doing, your worst enemy already lives inside you: your ego

Dimanapun kita berada dan kapanpun itu, sesuai judul buku ini, musuh terbesar kita adalah ego kita. Pada dasarnya pilihan ada di tangan kita, kita mau memberi makan ego itu hingga bertambah besar dan besar hingga EGO itu menguasai diri kita. Atau membiarkan dia kelaparan hingga mengecil, sehingga kita menjadi Tuan-nya. Pilihan ada di tangan kita, dan seperti salah satu bait di puisi invictus “ I am the captain of my soul“. Saya memilih untuk menjadi kapten dari ego saya 🙂

Manage your pride.

Tidak hanya saat ego kita tersentil membuat kita “bermasalah”, pada saat kita sukses, tanpa kita sadari ego juga bisa membuat kita merasa lebih baik daripada yang lain dan merasa diri ini penting hingga tanpa sadar kita menjadi egois, sombong hingga bersikap arogan

Your ego is not some power you’re forced to satiate at every turn. It can be managed. It can be directed

Pride tells you to talk, humility tells you to listen.

Kita seringkali merasa hebat saat memberi makan ego kita, padahal itu hanyalah semu belaka, karena tidak ada satu orang pun yang suka dengan orang yang punya sikap sombong dan egois. Sebaliknya kerendahan hati lah, membuat kita terus belajar dari orang lain, dan orang akan lebih menghormati itu. Kalau kata dewi lestari, kerendahan hati adalah jembatan zaman 🙂

Become a student.

Ego cenderung membuat kita untuk tidak mendengarkan orang lain, dan akhirnya saat kita tidak mendengarkan orang lain, kita akan berhenti belajar, dan pada akhirnya kita tidak akan tumbuh menjadi orang yang lebih baik, secara karir dan prestasi? maka tidak jarang hanya jalan di tempat

“It is impossible for a man to learn that, which he thinks he already knows.” – Epictetus

Help people become great.

Jika kamu ingin menjadi hebat, maka bantulah orang lain untuk menjadi hebat, seperti itulah hukum alam. Jadi jangan pernah pelit ilmu, atau kalau misal ditanyain kolega, berusaha menyembunyikan ilmu dengan alasan (a) supaya kolega itu tidak lebih pintar, atau (b) supaya kolega itu tetap membutuhkan-mu. Mindset ini hanya akan menyusahkan diri sendiri, alih-alih fokus terhadapa yang harus-nya di-fokuskan malah kepikiran supaya orang lain tidak lebih hebat. Padahal, dengan membuat hebat orang lain, kita akan lebih terbantu dalam kolaborasi, atau sesimpel gak ngerepotin kita di kemudian hari, karena dia sudah dapet ilmunya

Ego sways us from our ultimate goal.

Kita terkadang menentukan tujuan hidup kita karena ego kita menginginkan diri ini terlihat lebih baik daripada orang lain padahal belum tentu itu yang kita butuhkan. Sehingga letakkan ego saat ingin menentukan tujuan hidup atau karir, karena dengan ego, penilaian akan menjadi bias

Ego kills what we love.

Kayaknya ini tidak perlu dijelaskan lebih panjang, tidak jarang sebuah hubungan kandas karena setiap orang tidak bisa menahan ego-nya. Dan sialnya, ego itu seringkali tumbuh besar saat berhubungan dengan orang yang kita sayangi, mau bukti? kita cenderung bisa menahan emosi saat berdiskusi dengan teman atau kolega, tapi entah kenapa tidak jarang kita tidak bisa melakukan hal yang sama saat berhadapan dengan keluarga atau pasangan kita. Salah satu teori nya sih karena di alam sadar kita, kita merasa bahwa orang terdekat lebih memaklumi kesalahan kita daripada orang lain, sehingga hal itu menjadi excuse saat kita tidak bisa menahan emosi

So, Are you ready to confront your biggest enemy within?