Ketika saya mulai tertarik dengan inovasi dan Startup, saya mendapatkan informasi bagaimana mudahnya membuat startup bahkan dengan modal minim. Pada saat itu saya masih sedikit pengalaman, sehingga informasi yang saya terima tidak utuh atau saya tidak bisa mengolah informasi dengan baik, saya lebih suka menyebut diri saya pada saat itu adalah seorang delusional optimist, yang akhirnya Ide startup yang saya bikin tidak pernah ada yang berhasil. Setelah semakin mendapatkan pengalaman dan pembelajaran, ternyata membuat startup itu memang mudah, tapi suksesnya susah. Sehingga saya lebih realistis, dan buku ini memberikan pembelajaran berharga bagaimana menerima informasi agar tidak salah interprestasi

Factfulness adalah salah satu buku paling favorit di tahun 2018 dan salah satu buku yang direkomendasikan Bill Gates untuk dibaca. Ditulis oleh Hans Rosling, yang merupakan seorang profesor berkebangsaan Swedia. Secara khusus buku ini menjelaskan kepada audience tentang sepuluh bias penilaian yang sering membuat manusia salah dalam mengambil kesimpulan

1. THE GAP INSTING

Manusia memiliki kecenderungan melihat suatu masalah hanyalah hitam dan putih saja apalagi yang sensitif terhadap identitasnya, misal suku, agama, dkk

Padahal di dalam statistik, kita cukup mengenal dengan kurva distribusi normal, seperti mean, median, dll yang dimana membantu kita melihat masalah lebih clear, Lengkap dan secara holistic, tidak hanya melihat “Min” dan “Max” nya saja

2. THE NEGATIVITY INSTING

Manusia memiliki kecenderungan melihat sesuatu dari sisi buruknya saja dan tidak jarang berharap ada bad news, maka itulah alasan kenapa bad news lebih laku daripada good news

Sehingga perlu diingat, dalam melihat segala sesuatu jangan hanya melihat bad news saja, tapi lihat data sisi positifnya juga karena ada sisi negatif, pasti ada sisi positif juga.

3. THE STRAIGHT LINE INSTING

Manusia memiliki Tendensi mempercayai trend sebagai suatu kurva berbentuk linier. Padahal menurut statistic, hampir mustahil dalam suatu kasus membentuk kurva yang linear

Begitupun juga kita, jangan berfikir linier karena jika iya, bisa jadi kita tidak memasukkan faktor atau parameter tertentu dalam pertimbangan kita

4. THE FEAR INSTING

Kita tidak jarang Fokus pada triger yang menakutkan (fear) padahal bisa jadi secara statistik populasi rate nya kecil, sebagai contoh : kita takut naek pesawat karena pemberitaan “heboh” jika ada kecelakaan pesawat, padahal kecelakaan pesawat hanya 1 %

Untuk mengontrol fear insting ini, perlu dilakukan risk calculation secara tepat dan lengkap

5. THE SIZE INSTING

Manusia sering kali terahlikan berdasarkan proporsi besarnya padahal secara statistik bisa saja angkanya kecil.

Sebagai contoh jumlah orang terpapar covid di indonesia (3,4 juta) terkesan lebih banyak dari malaysia (1,1 juta). Akan tetapi jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya indonesia, maka “rate” nya lebih kecil yaitu 1.26% (jumlah penduduk 270 juta) sedangkan malaysia 3.44% (Jumlah penduduk 32 juta)

6. THE GENERALIZATION

Manusia memiliki kecenderungan mengeneralisir, Misal suku A memiliki perawakan suka marah, bukan berarti semua orang dari suku tersebut suka marah-marah

Jika menggunakan statistik tidak bisa satu kejadian mewakili semua populasi, perlu melihat secara data berapa % rata-ratanya , klo memang 51% nah mungkin bisa generalisir tapi klo hanya % kecil tidak bisa digeneralisir.

7. THE DESTINY INSTING

Orang acap kali berfikir bahwa karena perubahannya kecil maka dianggap tidak ada perubahan. Misal pada kasus covid sekarang ini, beberapa orang masih merasa tidak ada perubahan signifikan dan merasa kondisi lebih buruk, pada kenyataan Mortality Rate (TINGKAT KEMATIAN) karena covid menurun

8. THE SINGLE PRESPECTIVE

Manusia memiliki Tendensi hanya menggunakan satu perspektif sebagai tolak ukur kebenarannya. hal ini membuat individu tersebut menjadi “katak dalam tempurung”. Untuk itu, gunakan multi perspektif agar tidak terjebak dalam kebenaran tinggal.

9. THE BLAME INSTING

Kita tidak jarang menyalahkan dan mencari kambing hitam telebih dahulu, alih-alih mencari solusinya. hal ini sering menjadi bias sebuah diskusi, waktu habis untuk menyalahkan bukan mencari jalan keluar

Hal ini sering terjadi, karena manusia takut terlihat salah/buruk di depan orang lain. dan disi lain, dalam doa sering kali mengatakan “manusia tempatnya salah”

10. THE URGENCY INSTING

Manusia sering kali mengambil keputusan salah saat berada di kondisi terdesak atau panik. solusinya ? (1) Ambil Nafas (2) Lihat data dan faktanya (3) hindari membuat keputusan yang membutuhkan perubahan drastis, lebih baik mengambil keputusan kecil terlebih dahulu akan tetapi memiliki progress

Kesimpulan

Manusia sering menganggap yang ada di fikiran mereka itu benar, padahal jika melihat data secara lengkap, bisa saja salah. Ini dikarenakan keterbatasan manusia sendiri dalam mengetahui sesuatu

Untuk menghindarinya gunakan statistik dan data secara lengkap, dengan melihat Average, Trend, Mean, Median, dll. Sehingga bisa melihat sebuah kejadian secara holistik dan menyeluruh