Baru-baru ini ramai pemberitaan mengenai ide dari Mendikbud baru Muhadjir Effendy yaitu mencanangkan Full Day School. Tentu ada pro dan kontra, tetapi sayangnya sebelum ide ini diexplore lebih jauh, sudah dimatikan dengan bully-ing yang terlalu prematur. Beberapa pakar (sebut saja seperti itu) berargumen bahwa tren sekolah di negara2 maju saat ini adalah less school time, no homework, more about character building seperti yang ditampilkan di video ini

https://www.youtube.com/watch?v=7_W-eBUGNiw

Sah-sah aja sih kita membandingkan dengan negara (maju) luar, tetapi yang perlu kita pertimbangkan adalah kita memiliki culture yang berbeda. Jadi tidak bisa kita dengan serta merta bahkan gampangnya mengadaptasi (baca : disuruh meniruh) sistem itu, ada beberapa faktor yang cukup kompleks yang harus dipertimbangkan. Salah satu contoh faktor adalah power distance. Untuk variabel power distance ini saya ambil berdasarkan penelitian/riset Professor Geert Hofstede (https://www.geert-hofstede.com/) yang menganalisa people values di setiap negara.

finland indo

Power distance adalah nilai seberapa besar sebuah kekuasaan atau derajat seseorang di masyarakat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari misal atasan-bawahan, Kakak-adik, Orang Tua- Orang Muda. Seperti yang kita lihat Power Distance Indonesia tinggi, berita baiknya adalah di Indonesia orang ‘masih’ hormat kepada orang yang lebih tua, memberikan respek kepada atasan. Berita buruknya, kalau tidak ada atasan, seorang karyawan bisa bekerja seenaknya. Oleh sebab itu, cukup populer istilah asal bapak senang.

Sebaliknya, di negara yang power distance nya rendah, kedudukan tidak begitu memberikan dampak terhadap sikap masyarakat disana. Contoh simpelnya adalah di belanda yang memiliki Power Distance 38 (tempat saya sekarang), saat membuat janji dengan dosen, saya tidak perlu memikirkan kata-kata yang sopan tetapi cukup dengan 1-2 kalimat yang langsung mengutarahkan maksud dan tujuan kita. Selain itu, ada ataupun tidak ada atasan, mereka bekerja seperti biasanya (memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaannya bukan terhadap atasan). Bisa dikatakan pengawasan dari atasan tidaklah sepenting di Indonesia

Dari kasus diatas dapat kita ambil benang merah, di finlandia cukup beralasan jika memiliki jam sekolah sedikit, karena tanpa pengawasanpun lingkungan di sekitar mereka mendukung untuk ‘bertanggung jawab’ terhadap diri sendiri. Sebaliknya di Indonesia, tanpa pengawasan, anak-anak di Indonesia bisa terbentuk pribadi-pribadi yang ‘tidak bertanggung jawab’ apalagi ditambah dengan tayangan-tayangan televisi yang tidak mendidik. Tentu secara tidak langsung tayangan televisi memberikan pengaruh ke ‘gaya hidup’ mereka

Sehingga, saya kira cukup beralasan jika Mendikbud Muhadjir Effendy mengusulkan Full Day School karena dengan Full Day School siswa-siswa dapat terawasi dengan baik disaat orang tua mereka tidak ada di rumah. Seperti yang saya jabarkan di atas, masyarakat indonesia tanpa pengawasan cenderung tidak bertanggung jawab daripada melakukan hal yang ‘kreatif’. Lagipula konsep Full Day School nya (yang saya baca) bukanlah belajar terus seharian akan tetapi mengkombinasikan dengan ekstra kulikuler. Dan lagi konsep Full Day School juga telah diterapkan di sekolah2 swasta, dan outputnya juga tidak mengecewakan.

masyarakat indonesia tanpa pengawasan cenderung tidak bertanggung jawab daripada melakukan hal yang ‘kreatif’

Problem

Tentu hal ini bukan tanpa kendala,  SDM dan Infrastruktur adalah kendala nyata. Bagaimana dengan gaji guru ? Bagaimana dengan kurikulumnya ? Infrastruktur Sekolahnya ? Itu merupakan PR besar yang harus diselesaikan. Toh Mendikbud Muhadjir Effendy  juga menyampaikan bakalan ada pilot project dulu sehingga bisa mengetahui kondisi real di lapangan. Jadi dengan kata lain, ini bukanlah project roro jonggrang, semua ada prosesnya. Jadi santai sajalah!!!

Kita tidak pernah mau “sempat” mendengarkan orang menjelaskan konsep nya secara detail, kita sudah terlalu terburu-buru menjudge duluan dan memberikan ulasan-ulasan ‘cemerlang’. Berikanlah beliau kesempatan bicara, kesempatan menjawab bukan dengan mem-bully atau men-judge sana sini. Dan pada akhirnya tidak ada ide / gagasan baru kalau kita selalu begitu. Kecuali hanya mendukung gagasan / ide dari sang idola saja yang selalu benar, kalau itu sudah beda cerita